100 Tahun Gereja Kotabaru, Umat Didorong Tetap Teguh di Tengah Perubahan Zaman

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Gereja St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta memasuki usia 100 tahun dengan semangat memperkuat harapan, kebinekaan, dan pelayanan sosial.
‎
‎Momentum satu abad tersebut menjadi ruang refleksi perjalanan gereja sekaligus ajakan bagi umat menghadapi perubahan zaman dengan keberanian dan kepedulian.
‎
‎Pesan itu mengemuka dalam Malam Tirakatan dan Sarasehan Kebinekaan yang digelar Jumat (25/9), sebagai rangkaian peringatan satu abad Gereja Kotabaru.
‎
‎Kegiatan diawali Misa Harian pukul 17.30 WIB, kemudian dilanjutkan sarasehan bersama Romo Martinus Joko Lelono, Pr dan Inaya Wahid.
‎
‎Dalam sarasehan tersebut, Romo Joko menekankan pentingnya pembaruan diri secara terus-menerus menghadapi dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam.
‎
‎Menurutnya, Gereja Kotabaru harus terus berkembang dan mencari cara menghadirkan kebaikan lebih besar bagi umat maupun masyarakat luas.
‎
‎“Gereja tidak boleh berhenti berkembang, tetapi terus mencari cara menghadirkan kebaikan yang lebih besar,” ujar Romo Joko.
‎
‎Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan prinsip Ad Maiorem Dei Gloriam atau demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
‎
‎“Spirit itu mendorong kita untuk terus memperbarui diri dan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
‎
‎Romo Joko juga mengingatkan umat agar tetap menjaga harapan, meskipun menghadapi berbagai perubahan, tantangan, dan situasi yang tidak mudah.
‎
‎Ia mengutip pesan Paus Fransiskus mengenai pentingnya percaya bahwa masih terdapat kebaikan yang menanti manusia di masa depan.
‎
‎Sementara itu, aktivis kebinekaan Inaya Wahid mengajak peserta melihat harapan sebagai cahaya yang tetap dapat ditemukan dalam situasi paling sulit.
‎
‎Inaya mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep Misykāt, atau ceruk cahaya dalam pemikiran Al-Ghazali, sebagai simbol hadirnya penerang kehidupan.
‎
‎“Mungkin hari ini kalau kita merasakan hidup lagi gelap, kebahagiaan selalu bisa ditemukan dalam kondisi paling gelap sekalipun,” ujar Inaya.
‎
‎Ia melanjutkan, “Kalau seseorang ingat menyalakan lampunya, dalam kondisi negara paling gelap sekalipun, kalau kita mau menyalakan lampunya, kita akan jadi terang.”
‎
‎Inaya juga mendorong generasi muda memperluas pengetahuan dengan berani keluar dari lingkungan sendiri dan bertemu berbagai kelompok masyarakat.
‎
‎Menurutnya, membaca bukan hanya berhadapan dengan teks, tetapi juga belajar memahami pengalaman serta realitas kehidupan yang beragam.
‎
‎Pesan keberanian mengambil bagian kemudian disampaikan Pastor Paroki Kotabaru, Rm Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, SJ.
‎
‎Ia mengajak umat tidak sekadar menjadi penonton terhadap berbagai persoalan, melainkan berani terlibat mencari jalan keluar dan menghadirkan kebaikan.
‎
‎“Apakah muncul dalam ide gagasanku bahwa aku ingin terlibat dan ingin ambil bagian mengurai berbagai kekusutan, kegelapan yang tanpa harapan?” tutur Rm Fajar.
‎
‎Ia juga menyampaikan pesan Pater Jenderal Serikat Yesus agar umat tidak takut menghadapi perubahan zaman dan tetap memikirkan kontribusinya.“Jangan takut dengan dunia yang berubah, tetapi takutlah kalau dalam perubahan itu kita tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan,” kata Rm Fajar.
‎
‎Puncak peringatan satu abad berlangsung melalui Misa Syukur Sabtu (26/9), dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko bersama sembilan romo.
‎
‎Misa dihadiri ribuan umat dengan tema “Gereja Kotabaru: Teman Seperjalanan dalam Berpengharapan”, sekaligus menegaskan semangat kebersamaan lintas masyarakat.
‎
‎Perwakilan Kankemenag Kota Yogyakarta, V. Tatik Tri Jati Ningsih, menghadiri Misa Syukur sebagai bentuk dukungan terhadap sinergi pemerintah dan institusi keagamaan.
‎
‎Rangkaian perayaan kemudian dilanjutkan Pesta Rakyat bersama Gubernur DIY, Wali Kota, Polda DIY, serta masyarakat melalui panggung budaya dan kebersamaan.(waw)
‎