FITK UIN Sunan Kalijaga Perkuat Nilai Keagamaan dan Kepedulian Lingkungan dalam PBAK 2026
FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN, — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadikan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru.
Kegiatan yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 tersebut sekaligus menjadi momentum menanamkan budaya akademik, nilai keagamaan, kepedulian lingkungan, serta semangat inklusivitas sejak mahasiswa mengawali kehidupan di perguruan tinggi.
Sebanyak 1.039 mahasiswa baru mengikuti rangkaian PBAK FITK. Selama tiga hari, mahasiswa diperkenalkan dengan sistem akademik, etika keilmuan, tradisi intelektual, organisasi kemahasiswaan, serta nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan akademik di FITK.
Sebagai calon pendidik dan tenaga kependidikan, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat, mulai dari integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, hingga kepedulian terhadap lingkungan dan keberagaman.
Dekan FITK, Prof. Dr. Sigit Purnama, bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen fakultas terhadap isu lingkungan sekaligus pembentukan karakter mahasiswa.
”Kami ingin mahasiswa tidak hanya paham secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan sejak awal masuk kampus.
Pengelolaan sampah mandiri melalui student center dan Lembaga kemahasiswaan yang ada di FITK ini adalah bagian dari upaya kami menghadirkan echoteologi dalam praktik keseharian, sekaligus membentuk mahasiswa FITK yang unggul, beretika, kritis, dan berdampak,” ujar Prof. Sigit.
Sejumlah praktik baik diterapkan secara langsung selama PBAK. Dari sisi pembentukan karakter dan spiritualitas, mahasiswa baru diajak melaksanakan salat Duha bersama serta membiasakan salat tepat waktu.
Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya FITK mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kehidupan akademik mahasiswa.
Di bidang lingkungan, seluruh mahasiswa baru diwajibkan membawa tumbler untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Kebijakan tersebut kemudian diperkuat dengan sistem penanganan sampah secara mandiri selama tiga hari kegiatan.
Student Center mahasiswa diaktifkan sebagai pusat kegiatan pemilahan sampah organik dan anorganik.
Pengelolaan tersebut melibatkan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Otonomi Mahasiswa (BOM) dan Study Center Sinbion FITK UIN Sunan Kalijaga.
Kedua organisasi tersebut tidak hanya menangani sampah, tetapi juga mengedukasi dan mendampingi mahasiswa baru agar terbiasa memilah sampah sejak dari sumbernya.
Hasil pemilahan menunjukkan sebanyak 297 kilogram sampah organik berhasil dikumpulkan selama tiga hari. Rinciannya, 112 kilogram pada hari pertama, 88 kilogram pada hari kedua, dan 97 kilogram pada hari ketiga.
Selain sampah organik, tercatat 25 kilogram sampah plastik serta 72 kilogram sampah kardus dan kertas. Dengan demikian, total sampah yang berhasil ditangani melalui pengelolaan mandiri mencapai 394 kilogram.
Sampah organik yang telah dipilah tidak langsung dibuang. Sebagian dimanfaatkan untuk mengisi biopori yang tersedia di lingkungan kampus, sedangkan sebagian lainnya disalurkan ke peternakan maggot di wilayah DIY untuk dimanfaatkan sebagai pakan.
Pengelolaan tersebut sekaligus menjadi laboratorium terbuka bagi mahasiswa untuk belajar mengenai pengelolaan lingkungan dan praktik ekonomi sirkular secara langsung.
Upaya membawa tumbler dan pengelolaan sampah mandiri tersebut menjadi bagian dari penerapan ecotheology atau ekoteologi yang dikembangkan FITK.
Pendekatan ini menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.
Dalam perspektif ekoteologi, alam dipandang sebagai amanah yang harus dijaga. Manusia ditempatkan sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara keseimbangan bumi.
Karena itu, kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, memilah sampah, mengelola biopori, hingga memanfaatkan sampah organik untuk peternakan maggot dipandang tidak hanya sebagai tindakan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual.
“Di sisi lain, kami ingin PBAK menjadi momentum untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Karena itu, mahasiswa baru tidak hanya dikenalkan dengan budaya akademik, tetapi juga diajak mempraktikkan pengelolaan sampah dan mengurangi penggunaan plastik melalui kewajiban membawa tumbler,” kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FITK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Winarti.
Selain praktik keagamaan dan kepedulian lingkungan, FITK memberikan perhatian khusus terhadap pelayanan dan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai fasilitas dan layanan aksesibilitas selama PBAK berlangsung.
Di panggung utama, panitia menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) agar mahasiswa disabilitas dapat mengikuti materi yang disampaikan. Materi digital juga disiapkan agar dapat diakses menggunakan pembaca layar atau screen reader.
Untuk mendukung aksesibilitas fisik, FITK menyediakan jalur landai atau ramp portabel bagi pengguna kursi roda. Mahasiswa yang membutuhkan suasana lebih tenang juga dapat memanfaatkan quiet room yang disediakan selama kegiatan.
Pendampingan dilakukan melalui student buddy, yakni mahasiswa pendamping yang membantu mobilitas maupun kebutuhan mahasiswa disabilitas selama mengikuti kegiatan. Layanan tersebut diperkuat oleh para relawan yang disiapkan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UIN Sunan Kalijaga.
Sebelum kegiatan berlangsung, panitia dan mentor mahasiswa juga mendapatkan pembekalan mengenai etika berinteraksi serta pendampingan bagi penyandang disabilitas.
“PBAK tahun ini kami ingin memastikan bahwa sejak hari pertama, seluruh mahasiswa baru mendapatkan pengalaman yang aman, nyaman, dan setara, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Karena itu, kami menyiapkan berbagai fasilitas aksesibilitas, pendamping mahasiswa, juru bahasa isyarat, hingga ruang tenang agar tidak ada mahasiswa yang merasa tertinggal atau terpinggirkan dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan,” kata Winarti.
Menurutnya, kampus inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi juga membutuhkan budaya interaksi yang menghargai keberagaman.
“Bagi kami, kampus inklusif bukan sekadar menyediakan fasilitas, tetapi juga membangun budaya interaksi yang menghargai keberagaman. Panitia dan mentor juga kami bekali dengan pemahaman mengenai etika berinteraksi dan pendampingan disabilitas agar suasana PBAK benar-benar suportif dan bebas dari stigma maupun diskriminasi,” ujarnya.
Melalui lima praktik baik tersebut, yakni pembiasaan salat Duha bersama, salat tepat waktu, penggunaan tumbler, penanganan sampah secara mandiri, serta pelayanan dan pendampingan bagi mahasiswa difabel, PBAK FITK berupaya menjadikan orientasi mahasiswa baru sebagai proses pembentukan karakter yang menyentuh aspek spiritual, akademik, sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.
“Kami ingin mahasiswa FITK memahami bahwa menjadi calon pendidik bukan hanya soal kecakapan akademik. Mereka juga harus memiliki empati, kepedulian terhadap lingkungan, mampu menghargai keberagaman, dan memiliki kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia,” ujar Winarti. (waw)

