Pemerataan Layanan Jantung Masih Terkendala SDM, Dosen UMY: Infrastruktur Harus Diimbangi Tata Kelola
FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA – Kekurangan dokter spesialis jantung masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat Indonesia saat ini mengalami defisit sekitar 5.162 dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (SpJP) dari total kebutuhan sebanyak 6.801 dokter. Selain itu, sekitar 63,8 persen dokter spesialis jantung masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga akses layanan jantung di berbagai daerah belum merata.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Kemenkes bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) terus mempercepat pemenuhan tenaga medis, termasuk meningkatkan jumlah dokter spesialis kardiologi intervensi hingga 3,2 kali lipat dalam enam tahun terakhir. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung operasional cardiac catheterization laboratory (cath lab) yang terus dikembangkan di berbagai rumah sakit di Indonesia. Namun, sebagaimana dilaporkan Tribunnews (20/7), pemanfaatan cath lab di lapangan masih kerap terkendala oleh keterbatasan jumlah maupun distribusi dokter spesialis jantung.
Menanggapi kondisi tersebut, pakar Tata Kelola dan Manajemen Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Qurratul Aini, S.K.G., M.Kes., menilai bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah fasilitas kesehatan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia (SDM), sistem pelayanan, serta tata kelola rumah sakit agar investasi yang dilakukan benar-benar berdampak pada keselamatan pasien.
Menurut Aini, fenomena tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pembangunan infrastruktur dan kesiapan sistem pelayanan. Dalam konsep mutu pelayanan kesehatan yang dikembangkan oleh Avedis Donabedian, keberadaan cath lab merupakan aspek struktur yang tidak akan menghasilkan luaran pelayanan optimal apabila tidak didukung oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan sistem pelayanan yang berjalan secara efektif.
“Fenomena ini menggambarkan bahwa investasi pada aspek struktur berjalan lebih cepat dibandingkan investasi pada aspek proses. Cath lab memang merupakan bagian dari struktur, tetapi tanpa dokter dan tim yang kompeten untuk mengoperasikannya, pelayanan tidak akan berjalan sehingga tujuan menurunkan angka kematian akibat serangan jantung tidak tercapai. Dari sudut pandang manajemen aset, cath lab yang terpasang tanpa tenaga siap pakai berisiko menjadi aset menganggur. Nilai investasinya besar, tetapi kontribusinya terhadap keselamatan pasien menjadi nol apabila alat tersebut tidak dapat dioperasikan secara optimal,” jelas dosen Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) UMY itu, Rabu (22/7).
Ia menjelaskan bahwa keberadaan cath lab hanyalah satu komponen dalam sistem layanan jantung yang komprehensif. Rumah sakit juga harus memiliki tim multidisiplin, sistem layanan siaga selama 24 jam, fasilitas pendukung seperti Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) atau Intensive Cardiovascular Care Unit (ICVCU), serta tata kelola kredensial, perizinan, dan pembiayaan yang baik. Tanpa seluruh komponen tersebut, rumah sakit tetap harus merujuk pasien meskipun telah memiliki cath lab.
“Layanan cath lab merupakan kerja tim, bukan kerja satu orang. Selain dokter spesialis jantung, rumah sakit membutuhkan perawat kardiovaskular bersertifikat, radiografer atau teknisi kardiovaskular, dokter dan perawat anestesi, teknisi elektromedis, apoteker klinis, hingga tenaga rehabilitasi medik. Rumah sakit yang hanya memenuhi aspek struktur tanpa membangun proses pelayanan dan tata kelola pada akhirnya tetap belum mampu memberikan layanan secara optimal,” ujarnya.
Aini menambahkan, tantangan terbesar rumah sakit saat ini bukan hanya keterbatasan jumlah dokter spesialis jantung, tetapi juga rendahnya tingkat pemanfaatan cath lab akibat belum tersedianya ekosistem layanan yang memadai. Tidak sedikit rumah sakit yang telah memiliki fasilitas tersebut, namun jumlah tindakan medis masih jauh di bawah kapasitas karena belum tersedia sistem pelayanan 24 jam atau hanya memiliki satu dokter spesialis jantung.
“Ketika satu-satunya dokter spesialis cuti, sakit, atau mengikuti pendidikan lanjutan, layanan cath lab otomatis berhenti. Rumah sakit juga menghadapi persoalan retensi karena dokter yang bekerja sendirian lebih rentan mengalami kelelahan dan memilih berpindah ke fasilitas lain. Karena itu, membangun layanan jantung tidak cukup hanya menghadirkan alat, tetapi juga membangun ekosistem SDM dan tata kelola yang mampu menjaga layanan tetap berjalan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Aini, keberhasilan pemerataan layanan jantung di Indonesia tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah cath lab yang terpasang, tetapi juga dari kemampuan rumah sakit menyediakan layanan yang dapat diakses masyarakat secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur kesehatan perlu diikuti dengan pemerataan tenaga spesialis, penguatan tata kelola rumah sakit, serta peningkatan kualitas sistem pelayanan agar investasi yang telah dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi keselamatan pasien. (LSI)
Sumber : humas umy

