Pelaku Usaha Jamu Gendong Dibekali Inovasi Produk Bernilai Tambah di Bantul

FAJARLAMPUNG.COM SLEMAN – Bertempat di Desa Wisata Jamu Kiringan, Bantul, sebanyak 20 anggota Kelompok Jamu Gendong Marguna mengikuti pelatihan inovasi produk berbasis temulawak, Kamis kemarin.
‎
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha jamu melalui pengembangan produk bernilai tambah sekaligus melestarikan budaya jamu Indonesia yang diwariskan turun-temurun.
‎
Kegiatan merupakan bagian Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kemitraan Masyarakat BIMA Kemdiktisaintek yang dipimpin Program Studi Agribisnis Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta bersama mahasiswa.
‎
Ketua Tim PKM, Nur Saudah Al Arifa D., mengatakan pelatihan menghadirkan inovasi produk agar pelaku usaha jamu semakin kompetitif menghadapi perkembangan kebutuhan konsumen modern.
‎
“Kami ingin mendorong Kelompok Jamu Gendong Marguna menghasilkan produk inovatif berbasis temulawak yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” tegas Nur Saudah Al Arifa D.
‎
Ia menambahkan inovasi tetap harus menjaga nilai tradisional jamu sehingga manfaat herbal, kualitas, dan kepercayaan masyarakat terus terpelihara hingga generasi mendatang bersama.
‎
Peserta memperoleh pelatihan membuat dua produk jamu instan berbahan temulawak, yakni Jamuin CurvitaLime serta Jamuin CurvitaCinnamon yang dinilai praktis bernilai ekonomi tinggi.
‎
Selain minuman herbal, peserta juga belajar memproduksi Herbal Mask Marguna berbahan temulawak, tepung beras, serta jeruk nipis sebagai diversifikasi produk unggulan kelompok.
‎
Nur Saudah menegaskan diversifikasi produk menjadi strategi penting memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha jamu berbasis potensi lokal yang berkelanjutan bersama.
‎
“Produk praktis, berkualitas, dan tetap mengedepankan manfaat herbal diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas pasar,” ujar Nur Saudah kepada peserta pelatihan.
‎
Anggota Kelompok Jamu Gendong Marguna, Unun Matoyah, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti pelatihan inovasi produk berbasis temulawak tersebut dengan antusias tinggi.
‎
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami karena menambah pengetahuan tentang pengolahan temulawak menjadi produk yang lebih inovatif,” ungkap Unun Matoyah penuh semangat.
‎
“Semoga produk-produk ini diterima masyarakat dan menjadi peluang meningkatkan pendapatan seluruh anggota kelompok,” lanjut Unun Matoyah optimistis setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan tersebut.
‎
Pelatihan ini juga mendukung pelestarian Budaya Sehat Jamu yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 6 Desember 2023 bagi Indonesia.
‎
Pengakuan UNESCO menjadi dorongan kuat agar pengembangan jamu terus dilakukan melalui inovasi tanpa meninggalkan pengetahuan serta kearifan lokal yang diwariskan leluhur Indonesia.
‎
Tim PKM UNU Yogyakarta berharap Jamuin CurvitaLime, Jamuin CurvitaCinnamon, dan Herbal Mask Marguna mampu memperkuat daya saing usaha jamu masyarakat secara berkelanjutan nasional.
‎
Melalui inovasi tersebut, Desa Wisata Jamu Kiringan diharapkan semakin dikenal sebagai sentra jamu tradisional sekaligus pusat pengembangan produk herbal berbasis potensi lokal unggulan.