Serap Ratusan Tenaga Kerja, Padat Karya Infrastruktur Digenjot di Yogyakarta

FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta terus mengoptimalkan program padat karya sebagai upaya strategis dalam menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan berbasis gotong royong atau guyup rukun.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan seremonial pembukaan Padat Karya Infrastruktur yang digelar di Balai Manunggal Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Senin (6/4/2026). Program ini menyasar masyarakat lokal dengan mengedepankan penggunaan tenaga kerja manusia dibandingkan teknologi modern.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta, Drs. Maryustion Tonang, M.M., menjelaskan bahwa program padat karya dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat di lingkungan masing-masing. Selain membangun infrastruktur sederhana, program ini juga membuka kesempatan kerja sementara bagi warga, khususnya yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Padat karya ini lebih mengutamakan tenaga manusia. Jadi pekerjaan bisa dilakukan tanpa teknologi konstruksi modern, sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Ia menambahkan, sasaran utama program ini adalah masyarakat usia produktif, khususnya di atas 40 tahun yang kerap menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Dalam satu titik kegiatan, melibatkan sekitar 30 orang pekerja dengan masa kerja rata-rata 25 hari.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, M.Pd., menegaskan bahwa program padat karya mengusung konsep “2 in 1”, yakni pembangunan infrastruktur sekaligus pemberdayaan masyarakat.

“Selain infrastruktur di wilayah dapat dibangun dan dipelihara dengan baik, sisi pemberdayaan masyarakat juga berjalan. Ini penting untuk membantu masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang sedang mengalami tekanan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, secara keseluruhan terdapat sekitar 10 titik padat karya di Kota Yogyakarta dengan total tenaga kerja mencapai lebih dari 300 orang. Ditambah dukungan dari wilayah DIY, jumlah tenaga kerja yang terlibat diperkirakan mencapai sekitar 400 orang.

Sebanyak 10 titik pelaksanaan program padat karya di Kota Yogyakarta tersebar di sejumlah kelurahan, yakni Kelurahan Giwangan, Kelurahan Purbayan, Kelurahan Kricak, Kelurahan Cokrodingratan, Kelurahan Tegal Panggung, Kelurahan Rejowinangun, Kelurahan Gowongan, Kelurahan Pringgokusuman, Kelurahan Patehan, dan Kelurahan Prawirodirjan.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pembangunan talud penahan longsor di bantaran irigasi wilayah Giwangan sepanjang 14,5 meter dengan tinggi sekitar 4 meter. Infrastruktur ini dinilai penting mengingat kondisi tanah yang rawan longsor.

Ketua Kelompok Padat Karya Kelurahan Giwangan, Suwarto, menyampaikan apresiasi atas program tersebut. Menurutnya, kegiatan padat karya sangat membantu masyarakat yang sebelumnya menganggur atau memiliki pekerjaan tidak tetap.

“Harapan kami program ini bisa terus berlanjut, karena masih banyak kebutuhan infrastruktur di lingkungan yang belum tertangani dan juga masih banyak warga yang membutuhkan pekerjaan,” ujarnya.

Program padat karya ini juga memberikan upah harian kepada para pekerja, yakni sekitar Rp106.250 per hari untuk pekerja dan Rp111.000 untuk tukang. Meskipun bersifat sementara, tambahan pendapatan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.

Dengan semangat kebersamaan dan guyup rukun, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap program padat karya dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, serta memperkuat kemandirian masyarakat di tingkat lokal. (Aga)