Rencana Reaktivasi Kereta Yogya–Bantul Dinilai Perlu Kajian Mendalam

FAJARLAMPUNG.COM, Bantul – Putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, bicara soal peluang rute kereta api hingga Kabupaten Bantul. Ia ingin agar rute kereta ke Bantul dikembalikan seperti dulu.

‎”Kita kembalikan kalau bisa, ya keretanya sampai ke (Kabupaten) Bantul sana,” kata Mangkubumi usai bertemu dengan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey, di Stasiun Tugu Yogyakarta, Rabu (8/4).

‎Sejumlah warga menilai gagasan tersebut tidak lagi relevan dengan kebutuhan transportasi saat ini.

‎“Sudahlah, Ndoro Putri, sudah. Menghidupkan kembali jalur itu bukan solusi,” ujar seorang warga, menegaskan penolakannya.

‎Kritik utama muncul dari sisi teknis dan dampak lalu lintas. Warga mempertanyakan kesiapan infrastruktur jika jalur kereta diaktifkan kembali.

‎“Kereta api butuh jalur prioritas, sementara jalur Yogya–Bantul sudah padat. Berapa banyak pintu palang yang harus dibangun?” katanya.

‎Ia juga menyinggung potensi kemacetan yang bisa semakin parah setiap kali kereta melintas.

‎Selain itu, kebutuhan anggaran dinilai akan sangat besar. Mulai dari pembangunan jalur, pengadaan fasilitas pendukung, hingga biaya operasional seperti petugas penjaga palang.

‎“Kalau mau bikin monorail untuk menghindari macet, butuh berapa triliun? Jangan sampai membebani tanpa manfaat jelas,” ujarnya.

‎Di sisi lain, warga menilai mobilitas masyarakat sudah cukup teratasi secara mandiri. Kepemilikan kendaraan pribadi yang tinggi serta kehadiran layanan ojek online menjadi solusi alternatif yang dinilai efektif.

‎“Hampir tiap keluarga sudah punya kendaraan. Jarak 25 kilometer bukan lagi persoalan besar,” ucapnya.

‎Sebagai solusi, warga justru mendorong penguatan transportasi berbasis bus seperti TransJogja. Menurut mereka, moda ini lebih fleksibel dan mampu menjangkau berbagai wilayah.

‎“Daripada kereta api, lebih baik tambah armada dan trayek bus. Itu lebih sesuai kebutuhan warga sekarang,” tuturnya.(waw)