DPRD Lampung Minta Percepatan Pembangunan Jembatan Way Bungur

FAJARLAMPUNG.COM, Bandar Lampung – Video yang memperlihatkan pelajar menyeberangi Sungai Way Bungur menggunakan perahu kecil untuk berangkat sekolah kembali viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, para siswa berseragam lengkap tampak mengantre di tepian sungai di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur. Sebagian bahkan membawa sepeda motor untuk diseberangkan satu per satu menggunakan perahu. Warga menyebut kondisi itu telah berlangsung bertahun-tahun karena belum adanya jembatan penghubung yang memadai.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Yusnadi, mengatakan persoalan akses penyeberangan itu sudah lama disampaikan ke berbagai tingkatan pemerintahan. Ia mengaku bersama sejumlah anggota dewan pernah meninjau langsung lokasi tersebut.

“Dari kabupaten, provinsi, sampai kami di DPRD sudah pernah ke sana. Pengajuan agar ditangani kementerian juga sudah lama dilakukan,” ujar Yusnadi, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, surat permohonan pembangunan jembatan permanen telah dikirimkan ke pemerintah pusat melalui kementerian terkait lebih dari enam bulan lalu. Dalam rapat dengar pendapat sebelumnya, dinas teknis disebut telah memastikan bahwa pengajuan tersebut sudah diproses di tingkat kementerian.

“Sekarang kita menunggu proses dari kementerian. Karena memang kalau mengandalkan APBD, rasanya tidak mungkin,” katanya.

Sebagai solusi sementara, lanjut Yusnadi, pemerintah berencana membangun jembatan gantung yang diberi nama Jembatan Merah Putih. Opsi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif sambil menunggu realisasi pembangunan jembatan permanen.

“Untuk sementara bisa dibangun Jembatan Merah Putih. Tapi harapannya, jembatan permanen tetap harus direalisasikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, penyeberangan sungai tersebut melayani sedikitnya dua desa dengan satu lokasi sekolah yang sama. Setiap hari, ratusan pelajar harus menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil untuk mengakses pendidikan.

“Kondisinya memang memprihatinkan. Anak-anak setiap hari menggunakan perahu,” ujarnya.

Yusnadi berharap seluruh pihak dapat mengawal proses pembangunan hingga jembatan benar-benar terealisasi, baik sementara maupun permanen, sehingga akses pendidikan masyarakat tidak lagi bergantung pada penyeberangan sungai yang berisiko terhadap keselamatan pelajar. (*)