Menyusuri Kampung Mati Nglepen, Jejak Bencana dan Semangat Warga Menata Kehidupan

FAJARLAMPUNG.COM, ‎SLEMAN – Rimbunnya pepohonan di kawasan Prambanan, Kabupaten Sleman, ternyata menyimpan kisah pilu yang tak pernah lekang oleh waktu.

‎Di balik lebatnya vegetasi itu berdiri bekas Padukuhan Nglepen dan sebagian Padukuhan Sengir yang kini dikenal sebagai “kampung mati” setelah ditinggalkan warga akibat gempa bumi dahsyat Yogyakarta 27 Mei 2006.

‎Meski tampak seperti hutan biasa, kawasan tersebut pernah menjadi permukiman yang ramai dengan aktivitas masyarakat.

‎Lurah Sumberharjo, Kurniawan Widiyanto, mengungkapkan kerusakan di Nglepen bukan hanya disebabkan guncangan gempa, tetapi juga karena tanah mengalami ambles sehingga seluruh warga harus direlokasi.

‎”Kalau yang Nglepen sekarang sudah migrasi semua. Sudah pindah semua, yang Sengir sebagian tidak ditempati,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, “Yang Nglepen semua pindah. Ya betul karena tanahnya ambles. Tapi di sekelilingnya malah banyak korban, termasuk tempat saya. Alhamdulillah yang Nglepen tidak ada, semua selamat.”

‎Kesaksian mengharukan juga disampaikan Tukijo (70), penyintas yang pernah tinggal di Kampung Nglepen lama. Ia masih mengingat kepanikan saat gempa mengguncang ketika dirinya sedang memasak, sementara anaknya bersiap berangkat sekolah.

‎”Ya lari keluar semua. Alhamdulillah tidak ada yang luka, satu RT Nglepen juga tidak ada korban karena lari keluar rumah,” kenangnya. Menurutnya, kondisi kampung berubah total setelah tanah ambles dan bangunan rusak berat.

‎Pascagempa, seluruh warga tinggal di pengungsian sebelum akhirnya direlokasi pada 2009 ke permukiman baru berupa rumah-rumah berbentuk kubah yang kini dikenal sebagai Kampung Dome atau Rumah Teletubbies.

‎Sekitar 70 unit rumah dibangun untuk menampung warga Nglepen dan sebagian warga Sengir agar dapat memulai kehidupan baru setelah kehilangan kampung halaman.

‎Tukijo mengatakan kampung lama hingga kini tidak lagi boleh dihuni karena kondisi tanah masih dianggap berbahaya.

‎Kawasan tersebut perlahan berubah menjadi hutan yang menutupi bekas rumah dan jalan kampung.

‎”Sudah jadi hutan ditutup kayu dan pohon, tidak lagi di sana, tidak boleh dihuni lagi. Ya ke sana cuma kadang cari pakan,” katanya.

‎Kini, bekas kampung hanya sesekali didatangi warga untuk mencari rumput dan pakan ternak.

‎Hampir dua dekade berlalu, bekas Padukuhan Nglepen tetap menjadi saksi bisu dahsyatnya gempa Yogyakarta 2006.

‎Di sisi lain, Kampung Dome berkembang menjadi ikon wisata edukasi kebencanaan sekaligus simbol kebangkitan para penyintas.

‎Kisah Nglepen membuktikan bahwa bencana memang mampu mengubah kehidupan dalam hitungan detik, namun semangat gotong royong, ketangguhan, dan harapan mampu mengantarkan masyarakat bangkit serta memulai kehidupan baru.(WAW)