Tren Healing ke Gunung Meningkat, Dokter UMY Minta Pendaki Waspadai Hipotermia
FAJARLAMPUNG.COM, Tren menjadikan gunung sebagai tempat healing di kalangan anak muda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tidak sedikit pendaki yang memilih menikmati alam untuk melepas penat, bahkan sebagian melakukan pendakian singkat dengan konsep tektok (naik dan turun dalam satu hari). Namun, di balik meningkatnya minat tersebut, terdapat risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele, salah satunya hipotermia yang dapat berujung fatal jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan berbagai organ tubuh tidak dapat bekerja secara optimal dan berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
Menurut dr. Yusda, tubuh manusia membutuhkan suhu ideal agar seluruh sistem organ dapat berfungsi dengan baik. Ketika suhu tubuh menurun, organ-organ vital seperti jantung mulai mengalami gangguan sehingga kemampuan memompa darah menjadi tidak maksimal. Pada saat yang sama, tubuh menggunakan cadangan energi untuk menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil.
“Tubuh membutuhkan suhu yang optimal agar seluruh organ dapat bekerja maksimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, hingga sistem hormonal ikut terdampak. Pada pendaki yang sudah kelelahan dan banyak menguras energi, cadangan glukosa untuk mempertahankan panas tubuh semakin berkurang sehingga kemampuan tubuh melawan suhu dingin juga menurun,” jelas dr. Yusda kepada Humas UMY, Senin (22/6).
Selain memengaruhi fungsi jantung dan otot, hipotermia juga dapat mengganggu distribusi oksigen ke jaringan tubuh. Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen yang kemudian memengaruhi fungsi otak. Kondisi ini membuat kemampuan tubuh merespons suhu dingin semakin menurun.
Dr. Yusda menjelaskan bahwa gejala hipotermia sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, seseorang yang mengalami hipotermia dapat menunjukkan tanda-tanda seperti kebingungan, sulit berkonsentrasi, mengantuk berlebihan, kehilangan orientasi, hingga merasa tidak mampu bergerak. Pada kondisi yang lebih berat, korban bahkan dapat mengalami penurunan kesadaran.
“Ketika ada pendaki yang tiba-tiba blank, tersesat, sangat lemas, atau mengantuk berlebihan, kondisi tersebut sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Pada beberapa kasus ekstrem, seseorang bahkan bisa mengalami gangguan fungsi otak hingga melepas pakaiannya di tengah suhu yang sangat dingin. Karena itu, gejala-gejala seperti ini tidak boleh dianggap sepele,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa hipotermia yang tidak segera ditangani dapat memicu gangguan berantai pada berbagai organ tubuh. Fungsi otak, otot, hingga ginjal akan terus menurun dan berpotensi menyebabkan kegagalan organ yang berujung fatal.
“Ketika hipotermia dibiarkan, satu per satu organ akan terdampak. Fungsi otak menurun, otot semakin lemah, dan ginjal juga mengalami gangguan. Kondisi ini akan terus berlanjut hingga dapat menyebabkan kematian,” jelasnya.
Di tengah meningkatnya tren pendakian di kalangan anak muda, dr. Yusda mengingatkan bahwa antusiasme menikmati alam harus diimbangi dengan pengetahuan yang memadai mengenai risiko kesehatan selama perjalanan. Menurutnya, pendakian tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan perlengkapan, manajemen energi, serta pemahaman terhadap kondisi darurat yang mungkin terjadi di gunung.
“Jangan hanya mempersiapkan rute dan logistik. Pendaki juga harus memahami risiko kesehatan yang mungkin muncul selama perjalanan. Dengan pengetahuan yang cukup, pendakian bisa menjadi aktivitas yang aman, menyenangkan, dan tetap memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental,” pungkasnya.
Sumber : Humas Umy

