Tak Sekadar Melucu, Stand Up UMY Jadi Ruang Mahasiswa Bertumbuh dan Menemukan Jati Diri

FAJARLAMPUNG.COM, Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan tuntutan akademik, banyak mahasiswa membutuhkan ruang untuk berekspresi, berbagi cerita, dan menemukan komunitas yang mendukung perkembangan diri. Bagi sebagian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ruang tersebut hadir melalui Stand Up UMY, sebuah komunitas yang tidak hanya menjadi wadah berkomedi, tetapi juga tempat belajar, bertumbuh, dan membangun kepercayaan diri.

Berawal dari Open Mic Sederhana

Perjalanan Stand Up UMY dimulai pada 10 April 2014. Saat itu, sekitar sepuluh mahasiswa menggelar kegiatan open mic perdana secara sederhana di lobi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UMY. Berangkat dari ketertarikan yang sama terhadap dunia stand up comedy, mereka membentuk komunitas sebagai wadah untuk berkumpul, bertukar ide, menulis materi, dan tampil bersama.

Seiring waktu, komunitas tersebut berkembang pesat. Stand Up UMY rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan dan berkolaborasi dengan himpunan mahasiswa maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dalam menghadirkan acara open mic di lingkungan kampus.

Namun, menurut Ketua Stand Up UMY, Muhammad Alfath Taridala atau yang akrab disapa Fateh, kekuatan utama komunitas ini bukan terletak pada panggung atau jumlah penontonnya, melainkan pada budaya kekeluargaan yang tumbuh di dalamnya.

“Yang kami bangun adalah suasana yang suportif. Kami tidak pernah menuntut anggota baru untuk langsung lucu atau hebat. Mereka kami dampingi, diajak berdiskusi, membuat materi bersama, hingga akhirnya tumbuh rasa nyaman dan kekeluargaan,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).

Belajar Public Speaking hingga Mengenal Diri Sendiri

Bagi para anggotanya, stand up comedy bukan sekadar aktivitas melontarkan lelucon. Di balik setiap penampilan, terdapat proses belajar yang melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun argumen, menerima masukan, hingga berbicara di depan publik.

“Dalam stand up, kita tidak hanya dituntut berbicara di depan banyak orang. Materi harus kuat, penyampaiannya tepat, dan ada target untuk membuat penonton tertawa. Dari situ kami belajar public speaking, menerima kritik, menghargai perspektif orang lain, dan berpikir lebih terbuka,” jelas Fateh.

Selain menjadi sarana pengembangan diri, komunitas ini juga berfungsi sebagai ruang pelepas penat bagi mahasiswa. Berbagai pengalaman sehari-hari dan keresahan pribadi sering kali diolah menjadi materi komedi yang mengundang tawa sekaligus refleksi.

“Berkumpul bersama teman-teman stand up saja sudah menjadi cara melepas penat. Kami tertawa bersama, berbagi cerita, dan mengubah berbagai keresahan menjadi sesuatu yang menghibur. Ketika hati lebih tenang, semangat juga lebih terjaga,” katanya.

Menariknya, banyak anggota justru menemukan pemahaman baru tentang dirinya melalui proses menulis materi komedi.

“Saya justru merasa lebih mengenal diri sendiri setelah bergabung di stand up. Dari materi yang saya tulis, saya jadi memahami cara berpikir dan sudut pandang saya sendiri. Jadi stand up bukan hanya soal melucu, tetapi juga proses menemukan jati diri,” ungkapnya.

Melahirkan Komika Nasional

Perjalanan lebih dari satu dekade tersebut telah melahirkan sejumlah komika yang sukses menembus panggung nasional. Di antaranya adalah Mamat Alkatiri yang menjadi juara kedua Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) musim ke-7, Ali Akbar sebagai juara kedua SUCI musim ke-9, hingga Chairul Mukmin yang berhasil meraih gelar juara pertama SUCI musim ke-12.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa komunitas yang berawal dari open mic sederhana di lingkungan kampus mampu menjadi ruang pengembangan talenta yang menghasilkan komika berkualitas di tingkat nasional.

Bagi Fateh, keberadaan Stand Up UMY menjadi pengingat bahwa kehidupan kampus tidak hanya tentang perkuliahan dan pencapaian akademik. Kampus juga merupakan tempat bagi mahasiswa untuk menemukan potensi diri, memperluas relasi, serta membangun karakter.

“Di balik setiap tawa yang lahir di atas panggung, ada proses panjang mahasiswa untuk belajar berani, menerima diri sendiri, dan bertumbuh bersama. Kadang-kadang, perjalanan menemukan jati diri tidak dimulai dari ruang kelas, tetapi dari keberanian mengubah keresahan menjadi karya yang bisa dinikmati banyak orang,” tutupnya. (LSI)

Sumber : Humas Umy