Menginjak Usia Keenam, Al-Ma’mun Kian Aktif Merawat Yatim dan Dhuafa

‎FAJARLAMPUNG.COM, ‎Bantul – Yayasan Peduli Yatim Piatu dan Dhuafa Al-Ma’mun terus menunjukkan konsistensi pengabdian sosial selama enam tahun melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan keagamaan.
‎
Pembina yayasan, Agus Mulyono, mengatakan lembaga tersebut berdiri saat pandemi Covid-19 tahun 2020 dan resmi berbadan hukum pada tahun 2021.
‎
“Alamat sekretariat kami di Jalan Madumurti Nomor 3 Batangpuluhan. Kami dirikan saat pandemi, lalu berbadan hukum sejak 2021,” ujar Agus usai acara Milad ke-VI, Selasa (16/6/2026).
‎
Menurutnya, kegiatan yayasan berlangsung hampir setiap hari dengan melibatkan relawan, pengurus, ustaz, serta puluhan jamaah dari berbagai wilayah Yogyakarta.
‎
“Setiap hari ada kegiatan. Saya sendiri kadang tidak hafal seluruh agenda karena begitu banyak program yang berjalan,” katanya.
‎
‎Agus menjelaskan setiap Senin dan Jumat digelar pengajian Omah Ngaji yang diikuti sekitar 90 ibu-ibu secara rutin dan berkelanjutan.
‎
“Alhamdulillah anggotanya sudah sekitar 90 ibu-ibu. Mereka aktif mengikuti pengajian dan berbagai kegiatan sosial lainnya,” ungkapnya.
‎
Pada hari Selasa, yayasan menyelenggarakan Pengajian Anak Saleh yang dipandu Ustaz Tunari bersama tim secara bergilir di masjid-masjid seluruh Kota Yogyakarta.
‎
“Ustaz Tunari dan teman-temannya berkeliling dari masjid ke masjid untuk membina anak-anak agar mencintai ilmu agama,” jelas Agus.
‎
Sementara setiap Rabu dilaksanakan pengajian Golek Suargo di kawasan Bugisan, sedangkan Kamis diisi program sedekah buka bersama panti asuhan.
‎
“Kami rutin berbagi buka bersama di tiga panti asuhan dengan jumlah penerima manfaat sekitar 250 anak,” katanya.
‎
Program Jumat Sedekah menjadi salah satu kegiatan unggulan dengan pembagian 100 hingga 150 paket nasi kepada dhuafa, tukang becak, dan masyarakat jalanan.
‎
“Jumat pagi kami bagikan nasi untuk dhuafa. Sedangkan setelah salat Jumat ada Sedekah Terapi yang melibatkan sekitar 20 hingga 40 terapis,” tuturnya.
‎
Agus mengatakan layanan terapi tersebut mencakup bekam, fasdu, rukyah, dan berbagai metode kesehatan alternatif yang diberikan secara sukarela.
‎
“Siapa saja boleh datang. Ada bekam, fasdu, rukyah, dan layanan lainnya. Semua dilakukan untuk membantu masyarakat,” ujarnya.
‎
Meski jumlah penerima sembako tahun ini menurun menjadi 62 paket dari biasanya sekitar 100 paket, Agus tetap bersyukur atas keberlangsungan program.
‎
“Biasanya seratus paket, sekarang enam puluh dua. Namun kami bangga karena enam tahun ini kegiatan tetap berjalan,” katanya.
‎
Ke depan, Agus berharap dapat membangun pondok pesantren, membantu lebih banyak masjid, serta membuka lapangan pekerjaan melalui berbagai usaha produktif.
‎
“Saya selalu berdoa kepada Allah agar bisa membangun pondok pesantren dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” tegasnya.
‎
Menjelang masa pensiun, Agus juga merintis usaha konsultasi manajemen bernama Dwijaya Global Consulting Management yang telah menjajaki jaringan internasional.
‎
“Insya Allah kalau usaha ini berkembang, hasilnya akan kami gunakan untuk memperkuat dakwah, membantu masjid, dan membesarkan kegiatan sosial,” ujarnya.
‎
Menutup pernyataannya, Agus menegaskan bahwa hidup adalah kesempatan beramal dan setiap pemimpin wajib menjaga amanah dengan pendekatan kemanusiaan.
‎
“Hidup adalah kesempatan untuk beramal. Kalau diberi amanah, jangan lupa melayani perasaan manusia, karena itulah hakikat kepemimpinan,” pungkasnya.(ADY)