Penutupan Alun-Alun Utara Yogyakarta, Ini Penjelasan Mas Marrel

FAJARLAMPUNG.COM, ‎Jogja – Cucu Sri Sultan HB X, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo (Mas Marrel) akhirnya angkat bicara mengenai penutupan dan revitalisasi Alun-Alun Utara Yogyakarta yang memicu perhatian publik.
‎
‎Menurut Mas Marrel, kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menegaskan kondisi kawasan alun-alun dahulu mengalami berbagai persoalan yang membutuhkan penataan serius bersama.
‎
‎“Makanya Alun-Alun Utara sekarang direvitalisasi dan ditutup seperti itu,” ujar Mas Marrel saat menjelaskan latar belakang kebijakan penataan kawasan tersebut.
‎
‎Ia mengenang masa kecilnya sekitar tahun 2000-an ketika Alun-Alun Utara masih terbuka bebas dan menjadi ruang publik favorit masyarakat Yogyakarta.
‎
‎“Dulu selalu dibuka untuk umum. Banyak yang bermain sepak bola, berkegiatan, dan memanfaatkan alun-alun sebagai ruang berkumpul,” katanya menjelaskan.
‎
‎Namun seiring waktu, fungsi ruang terbuka tersebut mulai bergeser. Kawasan itu disebut menjadi lokasi parkir bus, lapak pedagang, hingga pasar malam.
‎
‎“Sayangnya kemudian menjadi tempat parkir bus, warung-warung, dan berbagai aktivitas lain yang tidak semuanya terkendali dengan baik,” ungkapnya dalam podcast.
‎
‎Masalah terbesar, menurut Mas Marrel, justru berasal dari pengelolaan sampah yang dinilai sangat memprihatinkan dan berdampak terhadap lingkungan kawasan bersejarah tersebut.
‎
‎“Mereka tidak membuang sampah keluar. Sampah digali ke bawah lalu ditimbun di situ,” ujarnya seraya menggambarkan kondisi yang pernah terjadi.
‎
‎Akibat praktik tersebut, kawasan alun-alun disebut mengalami pencemaran lingkungan. Bau tidak sedap hingga kondisi kumuh menjadi persoalan yang sulit dihindari.
‎
‎“Bau pesing dan berbagai bau lainnya muncul dari situ. Tempat itu akhirnya seperti lokasi pembuangan sampah,” kata Mas Marrel menegaskan.
‎
‎Ia juga menyoroti adanya oknum tidak bertanggung jawab yang dinilai memanfaatkan kawasan tersebut untuk kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.
‎
‎“Menurut saya itu sudah agak terlalu kelewatan. Ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kawasan tersebut,” tegasnya dalam keterangannya.
‎
‎Mas Marrel bahkan mengungkap fakta yang menurutnya belum banyak diketahui masyarakat mengenai aktivitas sejumlah warung pada malam hari di kawasan itu.
‎
‎“Ketika malam, sebagian warung berubah menjadi warung bermodal tikar dan kasur,” ungkapnya, menggambarkan perubahan aktivitas yang pernah terjadi dahulu.
‎
‎Tak hanya itu, ia menyebut pernah muncul praktik pengkaplingan area tertentu di lingkungan alun-alun yang seharusnya menjadi ruang bersama masyarakat.
‎
‎“Bahkan ada yang mengkapling area-area alun-alun. Ada yang merasa wilayah tertentu miliknya dan harus setor ke pihak tertentu,” katanya.
‎
‎Menutup keterangannya, Mas Marrel berharap masyarakat memahami alasan revitalisasi tersebut.
‎
‎“Kalau memang dijaga dengan baik dan benar, masyarakat juga perlu tahu sejauh apa masalahnya,” pungkasnya.(waw)
‎