Klaim Mandat Organisasi Disorot, Mahasiswa Jogja Serukan Politik yang Santun
FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Peduli Demokrasi (Kompas Demokrasi) menggelar aksi di Bundaran UGM, Yogyakarta, Senin (8/6/2026).
Mereka menyuarakan pesan yang cukup menohok, yakni pentingnya menjaga adab, etika, dan tata krama dalam kehidupan demokrasi, terutama terkait penggunaan identitas organisasi kemahasiswaan.
Aksi yang diikuti sekitar 50 peserta itu berlangsung damai. Menariknya, massa tidak hanya menyampaikan orasi, tetapi juga menampilkan tari budaya di tengah aksi.
Pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa demokrasi di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang menjunjung kesopanan dan penghormatan terhadap aturan.
Koordinator aksi, Noel Gaston, menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak cukup hanya mengandalkan kebebasan berpendapat.
Menurutnya, demokrasi juga harus dibangun di atas fondasi etika dan penghormatan terhadap mekanisme yang berlaku.
“Jogja adalah kota budaya. Budaya tidak hanya soal seni dan tradisi, tetapi juga soal adab dalam bersikap. Dalam dunia politik maupun organisasi, setiap orang harus menghormati mekanisme dan mandat yang berlaku,” ujar Noel.
Noel kemudian menyoroti fenomena pihak-pihak yang masih mengatasnamakan organisasi meski sudah tidak lagi memiliki mandat resmi.
Ia menilai tindakan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan mencederai etika berorganisasi.
“Kalau sudah bukan lagi bagian dari BEM atau tidak lagi memegang jabatan yang sah, maka jangan mengaku atau memperkenalkan diri di mana-mana sebagai bagian dari BEM. Itu persoalan adab dan penghormatan terhadap organisasi,” tegasnya.
Menurut Noel, penggunaan identitas kelembagaan harus didasarkan pada legitimasi yang jelas dan mandat yang sah.
“Demokrasi yang sehat harus dibangun di atas kejujuran dan etika. Jangan sampai masyarakat menerima informasi dari pihak yang sebenarnya sudah tidak memiliki kewenangan mewakili organisasi,” katanya.
Dalam aksi tersebut, peserta juga membentangkan berbagai poster berisi ajakan menjaga marwah organisasi mahasiswa serta menghormati mekanisme yang berlaku.
Massa menilai representasi mahasiswa harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak merusak kepercayaan publik terhadap lembaga kemahasiswaan.
“Mandat organisasi harus dihormati. Identitas kelembagaan bukan untuk dipakai sesuka hati,” tulis salah satu pesan yang disampaikan peserta aksi.
Usai menyampaikan pernyataan sikap dan menampilkan pertunjukan budaya, massa membubarkan diri secara tertib.
Aksi yang mendapat perhatian pengguna jalan di kawasan Bundaran UGM itu berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta berharap demokrasi kampus maupun kehidupan politik secara umum tetap menjunjung tinggi nilai adab, kejujuran, dan penghormatan terhadap aturan yang berlaku.(ADY)

