Hipertensi Anak Meningkat di Indonesia, Dosen UMY Minta Hasil CKG Tak Langsung Disimpulkan

FAJARLAMPUNG.COM, Hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan pada periode 1 Januari – 3 Mei 2026 yang mendeteksi ratusan ribu anak usia sekolah mengalami indikasi tekanan darah tinggi memicu kekhawatiran publik. Namun, Dosen Kedokteran Anak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. H. M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes., menegaskan bahwa hasil skrining awal tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai diagnosis hipertensi pada anak.

“CKG itu harus dipandang sebagai screening . Jadi hasilnya memang harus diulang dan tidak otomatis menunjukkan anak mengalami hipertensi. Tekanan darah perlu diperiksa beberapa kali pada kondisi yang tepat dan pada hari yang berbeda karena ada banyak faktor yang bisa memengaruhi hasil pengukuran, mulai dari kelelahan hingga aktivitas fisik sebelum pemeriksaan,” jelasnya Jum’at (22/5).

Meski demikian, dr. Bambang menilai tingginya jumlah anak dengan hasil tekanan darah di atas normal tetap menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan kesehatan yang lebih luas, terutama berkaitan dengan perubahan pola hidup anak dan keluarga di Indonesia saat ini.

Perubahan pola konsumsi makanan, kebiasaan kurang bergerak, hingga meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses turut memengaruhi meningkatnya risiko hipertensi pada usia anak dan remaja. Menurutnya, kondisi kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan yang dibangun dalam lingkungan keluarga.

“Hasil screening tetap penting sebagai warning atau alarm. Ini menunjukkan ada masalah pada anak-anak kita, dan lebih jauh lagi ada masalah pada keluarga. Anak-anak sangat dipengaruhi pola hidup di rumah, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, sampai kebiasaan sehari-hari. Kalau lingkungan keluarganya tidak sehat, anak juga akan ikut terdampak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr. Bambang menjelaskan hipertensi pada anak dibedakan menjadi hipertensi sekunder dan hipertensi primer. Hipertensi sekunder umumnya ditemukan pada anak usia lebih kecil dan berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti gangguan ginjal atau kelainan bawaan. Sementara itu, hipertensi primer lebih banyak ditemukan pada anak usia remaja dan erat kaitannya dengan faktor genetik yang diperburuk oleh pola hidup tidak sehat.

Selain faktor penyebab yang beragam, dr. Bambang menyebutkan tantangan terbesar dalam kasus hipertensi anak adalah gejalanya yang sering tidak khas sehingga kerap luput dari perhatian orang tua. Banyak anak tidak menunjukkan tanda yang jelas meski tekanan darahnya sudah meningkat.

Kondisi tersebut membuat hipertensi pada anak sering disebut sebagai silent disease. Keluhan yang muncul biasanya tampak ringan dan mudah dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa.

“Kadang anak hanya mengeluh pusing, mudah lelah, atau mimisan berulang. Pada anak yang lebih kecil bahkan bisa hanya terlihat rewel, aktivitasnya menurun, atau gangguan makan. Karena gejalanya sering tidak khas, orang tua perlu lebih waspada dan tidak menyepelekan perubahan kondisi pada anak,” tegas dr. Bambang.

Sumber : Humas Umy