Angkat Mimpi Masa Kecil, SBG 2026 Tawarkan Eksplorasi Kreativitas Autentik

‎FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – Suasana tak biasa akan mewarnai perayaan Hari Seni Sedunia, Rabu (15/4/2026). Puluhan orang tampil dengan kostum nyentrik—mulai dari sayap, topeng, hingga pakaian profesi masa kecil—dalam gelaran “Sehari Boleh Gila” (SBG).
‎
Dari “keganjilan” itulah, forum seni lintas generasi ini kembali menyalakan mimpi masa kecil sebagai sumber kreativitas yang jujur dan autentik.
‎
Penggagas gagasan ini, Prof Drs M. Dwi Marianto, MFA, PhD, menegaskan bahwa mimpi masa kecil bukan sekadar kenangan.
‎
“Setiap orang punya mimpi masa kecil yang mendiami hati, pikiran, dan kalbu sang pemilik. Mimpi itu tak pernah bosan merengek, minta disapa, dan berperan sebagai pencatat sejarah tuannya,” ujarnya.
‎
Ia menambahkan, “Mimpi masa kecil itu penting, mata air ide yang tak ternilai harganya.”
‎
Tema “Spiritual Anarchy” dalam SBG 2026 menjadi ruang bebas bagi peserta mengekspresikan memori masa lalu.
‎
Mereka mengolah simbol, metafor, hingga bahasa visual untuk membongkar endapan pengalaman batin.
‎
“Ini bukan sekadar bermain imajinasi, tetapi proses mentransformasikan masa lalu menjadi kesadaran baru,” ungkap salah satu peserta yang sudah mendaftar di lokasi kegiatan.
‎
Koordinator kegiatan, Lejar Daniartana Hukubun, menyebut SBG sebagai ruang eksplorasi yang terus relevan.
‎
“Sehari Boleh Gila dapat menjadi media eksplorasi untuk menghasilkan kebaruan kreatif. Dalam kebebasan penuh, orang justru menemukan sisi paling autentik dari dirinya,” katanya.
‎
Ia menilai forum ini memberi ruang aman bagi siapa saja untuk berekspresi tanpa batasan.
‎
Sementara itu, pelaku seni sekaligus penggagas awal, Insanul Qisti Barriyah, mengingat perjalanan panjang SBG sejak 2007.
‎
“Kami ingin menghadirkan seni sebagai ruang pembebasan, tempat manusia kembali bertemu dengan dirinya yang paling awal—mimpi masa kecil, ingatan lama, bahkan trauma yang bisa diolah jadi energi kreatif,” ujarnya.
‎
Seniman Heri Dono menilai SBG memiliki peran penting dalam lanskap seni rupa Indonesia.
‎
“Kehidupan kontemporer ditandai kemajemukan, tapi seni sering bergerak menyempit. SBG justru menghadirkan ruang inventif untuk mencari kemungkinan estetik baru,” katanya.
‎
Ia menegaskan, selama hampir dua dekade, SBG membuktikan bahwa kreativitas bisa lahir dari hal sederhana—keberanian untuk sesaat “gila” dan kembali memeluk mimpi masa kecil. (andriyani)