YKHC dan HS Tutup Tur Delapan Kota dengan Penampilan di Yogyakarta

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Kolaborasi antara brand HS dan komunitas musik religi YogyaKarta Hadroh Clan (YKHC) kembali menggema di Yogyakarta, tepatnya di halaman kantor Harian Jogja, Sabtu (14/3/2026).
‎
Acara yang digelar sebagai titik terakhir dari rangkaian tur delapan kota ini menjadi penegasan misi menghadirkan solawat dengan pendekatan yang lebih modern dan dekat dengan generasi muda.
‎
Head Brand Promotion HS, Aldo, menegaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan arah brand yang ingin merangkul anak muda berani tampil berbeda.
‎
Aldo menjelaskan, HS memiliki DNA brand yang menargetkan generasi muda yang tidak takut mengambil keputusan dan berani keluar dari arus utama.
‎
“DNA produk yang kita bawa itu memang lebih ke anak muda, yang berani beda, berani ambil keputusan dan tidak mainstream,” ujar Aldo.
‎
Ia menambahkan, konsep hadroh modern yang diusung YKHC dianggap selaras dengan visi HS dalam menghadirkan sesuatu yang segar dan relevan bagi komunitas urban.
‎
Menurut Aldo, ketertarikan HS bermula dari kreativitas para musisi di YKHC yang mampu mengemas hadroh dalam nuansa skena musik yang berbeda.
‎
“YKHC ini kan terbentuk dari beberapa musisi seperti Mas Doni, Mas Alit, Mas Afgandos dan teman-teman lainnya. Apa yang mereka buat bukan hal biasa, mereka membawa hadroh secara modern dan itu menurut kami menarik,” katanya.
‎
Ia menegaskan, kolaborasi tersebut bertujuan mengajak masyarakat, khususnya anak muda kota, melihat bahwa solawat juga bisa dinikmati dengan cara yang lebih kekinian.
‎
Sementara itu, personel YKHC, Dony Saputra, menyebut kolaborasi dengan HS menjadi salah satu langkah penting memperluas dakwah melalui musik.
‎
“Ini titik ke-8 dari kerja sama HS dengan YKHC setelah sebelumnya kita tampil di Semarang, Magelang, Cimahi, Purwokerto, Surabaya, Malang dan beberapa kota lain,” ujar Dony.
‎
Ia juga membocorkan bahwa YKHC tengah menyiapkan single berjudul “Rampak Pembebasan” yang mengangkat isu Palestina serta album baru yang menggali kembali kearifan lokal.
‎
“Insya Allah setelah Lebaran kita rilis, konsepnya lebih ke nguri-nguri budaya lokal yang mulai ditinggalkan,” pungkasnya. (waw)