Mampukah Gotong Royong Selamatkan Demokrasi Gunungkidul?

FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Pusat Studi Pembangunan Desa dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK UGM) serta Forum 2045 menggelar diskusi bertajuk “Gotong Royong Governance: Menata Kembali Formasi Legitimasi dan Legalitas Demokrasi Lokal” pada Kamis (12/3/2026).
‎
Forum yang berlangsung di ruang pertemuan PSPK UGM itu menghadirkan bupati Gunungkidul, akademisi, serta komunitas pemuda.
‎
Diskusi tersebut membahas relevansi nilai gotong royong dalam menjawab krisis demokrasi sekaligus meningkatnya risiko sosial-ekonomi di tingkat lokal.
‎
Ketua Forum 2045, Pinurba Parama Pratiyudha, mengatakan demokrasi pada dasarnya lahir dari semangat otonomi manusia.
‎
Namun, ia menilai praktik pengambilan keputusan politik kerap menghadapi persoalan legitimasi dan keterhubungan dengan masyarakat.
‎
“Karena itu forum ini diarahkan untuk merumuskan pendekatan baru yang mampu memperkuat relasi antara masyarakat dan penyelenggara jabatan struktural melalui model kolaboratif yang dirancang dalam bentuk living lab,” ujarnya.
‎
Sosiolog sekaligus Ketua PSPK UGM, Arie Sujito, menyoroti persoalan mendasar dalam tata kelola kekuasaan yang menurutnya kerap memicu keresahan global hingga berdampak ke tingkat lokal.
‎
Ia menyebut gotong royong dapat menjadi basis koreksi terhadap praktik demokrasi yang semakin elitis.
‎
“Gotong royong perlu dimaknai sebagai demokrasi akar rumput. Masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan,” katanya.
‎
Dengan pendekatan tersebut, forum warga diharapkan menjadi ruang negosiasi partisipatif yang mampu menggeser pengambilan keputusan dari elit menuju ruang publik.
‎
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa semangat gotong royong memiliki relevansi nyata dalam pembangunan daerah.
‎
Ia mengungkapkan pemerintah daerah tengah merintis konsep bupati berkantor di desa-desa bersama masyarakat.
‎
“Dengan cara ini kami berharap tercipta komunikasi yang lebih integral antara pemimpin dan warga, sekaligus menghadirkan tata kelola pemerintahan yang partisipatif,” ujarnya.
‎
Ia menilai pendekatan tersebut dapat memperkuat hubungan pemerintah dengan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.(waw)