Dosen UWMY: Kegagalan Organisasi di Era Digital Dipicu Lemahnya Kepemimpinan
FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – Transformasi digital dinilai tak cukup mengandalkan teknologi mutakhir semata. Namun, organisasi harus membangun kepemimpinan adaptif agar mampu bertahan berkelanjutan.
Dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Cahya Purnama Asri, menegaskan kegagalan sering dipicu lemahnya kepemimpinan.
“Banyak organisasi runtuh bukan karena teknologinya tertinggal, melainkan karena pemimpinnya gagal membaca perubahan,” ujar Cahya dalam keterangannya, Jum’at (20/2/2026).
Menurut dia, percepatan Revolusi Industri 4.0 menuju 5.0 memaksa organisasi mengadopsi kecerdasan buatan, komputasi awan, serta otomatisasi.
Namun demikian, investasi besar tidak otomatis menjamin keberhasilan. “Tanpa pola pikir digital, teknologi hanya menjadi pajangan mahal,” katanya.
Cahya merujuk pemikiran Paul Leonardi dan Tsedal Neeley dalam The Digital Mindset tentang pentingnya cara berpikir baru.
Dalam konteks itu, ia menilai model hierarkis berbasis kontrol semakin usang. Sebaliknya, pemimpin perlu memfasilitasi kolaborasi horizontal transparan.
Ia mencontohkan kegagalan Kodak yang terlambat bertransformasi, sementara Netflix sukses beralih dari DVD menuju streaming.
Selain visi strategis dan orientasi digital, kelincahan organisasi menentukan daya tahan. “Prinsip fail fast, learn faster harus diterapkan konsisten,” ujarnya.
Akhirnya, ia menekankan etika dan kepercayaan publik sebagai fondasi utama. “Kepercayaan adalah mata uang digital paling berharga,” tegasnya. (waw)

