Jenuh dan Kesepian di Perantauan? Ronnie Bangun “Jogja Berteman”, Puluhan Orang Langsung Bergabung

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Kesepian di tanah rantau mendorong Ronnie (32), membangun Jogja Berteman. Komunitas ini mempertemukan puluhan orang melalui kegiatan santai, olahraga, hingga eksplorasi Yogyakarta.
‎
Berawal dari kejenuhan karena minim teman, Ronnie mengubah kegelisahan menjadi gerakan sosial. Ia ingin perantau menemukan lingkungan baru yang hangat, terbuka, dan menyenangkan.
‎
Pria kelahiran Bekasi keturunan Nusa Tenggara Timur-Sunda tersebut kini menjalani tahun kedua menetap di Yogyakarta. Pengalaman pribadinya menjadi titik awal pembentukan komunitas.
‎
Ronnie mengaku, kehidupan merantau terkadang menghadirkan tantangan tersendiri, terutama ketika lingkaran pertemanan masih terbatas. Situasi itu membuatnya berpikir menciptakan ruang perjumpaan.
‎
Menariknya, gagasan Jogja Berteman justru muncul dari pemikiran sederhana menjelang tidur siang. Saat itu, Ronnie bersama istri dan seorang rekannya kerap menghabiskan waktu bertiga.
‎
“Ide awal muncul pas mau tidur siang, mikir apa yang harus dibuat di Jogja,” ungkap Ronnie menceritakan awal terbentuknya komunitas tersebut.
‎
Ia kemudian menemukan jawaban sederhana atas kegelisahannya. “Kenapa enggak bikin komunitas untuk berteman? Dari situ tercetus nama Jogja Berteman,” katanya.
‎
Dari pemikiran spontan itu, Ronnie mulai merintis wadah pertemanan yang dapat mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tujuannya sederhana, membangun hubungan antar manusia.
‎
Jogja Berteman tidak membatasi keanggotaan hanya bagi mahasiswa atau pekerja pendatang. Warga lokal juga dipersilakan bergabung untuk memperluas jaringan pertemanan dan pengalaman sosial.
‎
Untuk mengakomodasi beragam minat anggota, Ronnie menyusun lima pilar kegiatan utama. Konsep tersebut menjadi landasan aktivitas sekaligus cara menjaga komunitas tetap hidup.
‎
Lima kegiatan itu meliputi nongkrong, kulineran, eksplorasi Jogja, travelling, dan olahraga. Anggota dapat memilih aktivitas sesuai ketertarikan masing-masing tanpa harus merasa terbebani.
‎
Melalui kegiatan tersebut, pertemuan tidak sekadar menjadi ajang mengisi waktu luang. Anggota memiliki kesempatan mengenal orang baru, berbagi cerita, dan membangun kedekatan.
‎
Perjalanan Jogja Berteman dimulai melalui unggahan sederhana di platform Threads. Ronnie tidak menyangka respons masyarakat terhadap gagasannya berkembang cukup cepat dan menggembirakan.
‎
Pertemuan perdana komunitas itu hanya dihadiri belasan orang. Namun, antusiasme peserta terus meningkat hingga pertemuan keenam berhasil menarik lebih dari 50 orang.
‎
Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap ruang pertemanan yang terbuka. Bagi sebagian orang, kesempatan bertemu teman baru menjadi pengalaman berharga selama menjalani kehidupan di perantauan.
‎
Menariknya, komunitas ini juga menjadi ruang perjumpaan bagi penduduk lokal. Kehadiran mereka membuat interaksi semakin beragam dan memperluas hubungan sosial lintas latar belakang.
‎
Dampak Jogja Berteman bahkan meluas ke luar Yogyakarta. Gagasan membangun pertemanan melalui kegiatan bersama turut menginspirasi lahirnya komunitas serupa bernama Solo Berteman.
‎
Bagi Ronnie, pencapaian komunitas tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang hadir. Ia menilai kualitas hubungan antarpersonal jauh lebih penting untuk dipertahankan.
‎
Ia ingin setiap pertemuan meninggalkan kesan positif, bukan sekadar menghadirkan keramaian sesaat. Kebersamaan diharapkan tumbuh menjadi hubungan yang terus terjaga meskipun aktivitas berubah.
‎
“Jaga silaturahmi, karena kita tidak tahu hubungan baik ini bisa jadi rezeki atau kebaikan di masa depan,” ujar Ronnie.
‎
Menurutnya, komunitas dapat mengalami perubahan seiring waktu. Namun, hubungan baik yang terbentuk di antara anggota seharusnya tidak ikut menghilang begitu saja.
‎
“Komunitas mungkin bisa berganti, tapi hubungan antar personal di dalamnya yang harus terus kita jaga,” pungkasnya.
‎
Melalui Jogja Berteman, Ronnie membuktikan bahwa kegelisahan pribadi dapat melahirkan gerakan positif. Dari pertemuan sederhana, persahabatan tumbuh dan silaturahmi menemukan ruang baru.(waw)