KKRI Resmi Diluncurkan, Jadi Ekstrakurikuler Pilihan bagi Siswa Jenjang Pendidikan Menengah
FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Pemerintah resmi meluncurkan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler pilihan pada jenjang pendidikan menengah tahun ajaran 2026/2027. Peluncuran tersebut berlangsung di SMK Negeri 26 Jakarta pada Rabu (23/9/2026). Program ini diarahkan untuk memperkuat karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan kesadaran bela negara peserta didik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya telah menetapkan Keputusan Menteri Pendidikan Menengah Nomor 136 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembinaan Kesadaran Bela Negara melalui Ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia pada Jenjang Pendidikan Menengah pada 5 Mei 2026. KKRI ditegaskan sebagai ekstrakurikuler pilihan, bukan kegiatan yang wajib diikuti seluruh siswa.
Di tengah penerapan program tersebut, muncul diskusi mengenai bagaimana pendidikan karakter dan nilai kebangsaan seharusnya dibangun bagi generasi muda.
Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed., Ph.D., menilai penguatan karakter cinta tanah air dan bela negara merupakan bagian penting dalam pendidikan. Namun, menurutnya, penanaman nilai kebangsaan perlu ditempatkan dalam perspektif pendidikan yang lebih luas, bukan hanya melalui pendekatan kedisiplinan tertentu.
Nurwanto, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY, mengatakan setiap upaya membangun karakter peserta didik pada dasarnya memiliki tujuan positif selama benar-benar diarahkan untuk perkembangan siswa.
“Kalau KKRI ini dimaksudkan untuk memfasilitasi tumbuhnya karakter, di antaranya untuk menumbuhkan karakter bela negara dan cinta tanah air, maka secara umum itu positif,” ujar Nurwanto saat diwawancarai Humas UMY, Kamis (01/10).
Menurutnya, ekstrakurikuler merupakan bagian dari proses pendidikan yang berfungsi membantu peserta didik mengembangkan potensi, minat, bakat, serta karakter di luar pembelajaran formal.
“Ekstrakurikuler itu aktivitas siswa yang dikelola oleh sekolah, tetapi di luar jam pelajaran. Sifatnya untuk membantu dan memfasilitasi tumbuhnya bakat, minat, hobi, bahkan karakter para siswa,” jelasnya.
Namun, ia menilai hal yang perlu menjadi perhatian adalah memastikan arah dan substansi program tersebut. Menurutnya, sebelum menghadirkan program baru, perlu ada kejelasan mengenai kebutuhan pendidikan yang ingin dijawab.
“Pertanyaannya, dalam konteks bela negara seperti apa yang mau diusung oleh gagasan atau program ini?” kata Nurwanto.
Pendidikan Karakter Tidak Identik dengan Pendekatan Militer
Pemerintah menegaskan KKRI tidak dimaksudkan untuk menjadikan peserta didik sebagai prajurit. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyebut KKRI sebagai bagian dari penguatan karakter dan kesadaran bela negara, bukan untuk menghadirkan militerisme di sekolah.
Dalam konteks tersebut, Nurwanto menilai pendidikan karakter merupakan proses panjang yang tidak hanya berkaitan dengan pembentukan kedisiplinan. Pendidikan karakter juga menyangkut bagaimana peserta didik memahami nilai, tanggung jawab, dan perannya sebagai warga negara.
Menurutnya, sekolah merupakan ruang pendidikan yang harus tetap memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, berekspresi, dan mengembangkan kesadaran kritis.
Ia mengatakan bahwa membangun kecintaan terhadap bangsa tidak harus dilakukan melalui satu pendekatan tertentu. Nilai kebangsaan dapat tumbuh melalui interaksi pendidikan sehari-hari, keteladanan guru, organisasi siswa, dan pengalaman sosial di lingkungan sekolah.
“Untuk membangun cinta tanah air dan bela negara dalam pengertian sebagai sebuah sikap kepedulian, guru-guru bisa melakukannya. Organisasi-organisasi kesiswaan yang sekarang sudah ada juga bisa,” ujar Nurwanto.
Menurutnya, guru memiliki posisi sentral karena pendidikan karakter tidak hanya terjadi melalui program formal, tetapi juga melalui keteladanan dan proses pembelajaran di sekolah.
“Warga negara yang cinta tanah air adalah warga negara yang membaca sejarah dengan terbuka dan jujur,” katanya.
Sekolah Sudah Memiliki Instrumen Pembentukan Karakter
Nurwanto menjelaskan bahwa sekolah sebenarnya telah memiliki berbagai instrumen untuk membangun nilai kebangsaan peserta didik. Selain melalui pembelajaran di kelas, pendidikan karakter juga berkembang melalui kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Hizbul Wathan (HW), maupun Paskibraka.
Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut memiliki fungsi penting karena memberikan ruang pengalaman langsung bagi siswa dalam membangun tanggung jawab, kerja sama, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan sebenarnya telah menjadi bagian dari kurikulum nasional.
“Pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama, bahkan ilmu sosial, semuanya memiliki semangat untuk membangun kehidupan bangsa,” ujar Nurwanto.
Menurutnya, nilai bela negara dan cinta tanah air bukan merupakan hal baru dalam pendidikan Indonesia.
“Nilai-nilai bela negara dan cinta tanah air itu sudah ada di kurikulum yang kurikuler,” katanya.
Perkuat Guru Sebelum Menambah Program Baru
Nurwanto menilai tantangan utama pendidikan saat ini bukan hanya menghadirkan program baru, melainkan memastikan sistem pendidikan yang telah ada berjalan secara optimal.
Ia menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas guru, penguatan layanan bimbingan konseling, serta optimalisasi berbagai program pembinaan siswa.
“Kalau guru-guru dilatih, kemudian bimbingan konseling diberdayakan lagi, itu saja yang difokuskan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan pendidikan karakter perlu berangkat dari kebutuhan nyata sekolah, bukan sekadar menambah struktur atau program baru.
Optimalisasi Program yang Sudah Berjalan
Nurwanto berpandangan bahwa berbagai organisasi dan kegiatan siswa yang telah berjalan sebenarnya memiliki potensi besar dalam membangun karakter generasi muda. Karena itu, ia mendorong agar program yang sudah ada diperkuat melalui dukungan pembina, fasilitas, dan pengelolaan yang lebih baik.
“Perkuat saja pembina-pembina yang Pramuka. Kalau di Muhammadiyah ada HW, termasuk organisasi lainnya. Itu saja yang diperlukan supaya lebih optimal,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan akhir pendidikan karakter bukan hanya menciptakan siswa yang disiplin secara fisik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepedulian terhadap bangsa sekaligus mampu berpikir secara dewasa.
“Yang sudah ada ini dibenahi daripada menambah struktur baru,” pungkas Nurwanto. (gla)
Sumber : Humas Umy

