Ratusan Pembatik Bakal Ramaikan Malioboro Lewat Simfoni 1001 Pembatik

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Simfoni 1001 Pembatik bakal mengguncang Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026), menghadirkan ratusan pembatik untuk merayakan warisan budaya Indonesia yang semakin kuat dan membanggakan.
‎
Event ini digelar KADIN DIY bersama Kementerian Kebudayaan RI, Pemda DIY, Pemkot Yogyakarta, Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, serta Dekranasda DIY untuk memperkuat pelestarian budaya.
‎
Panitia menyebut sekitar 800 peserta akan ambil bagian, terdiri atas komunitas pembatik, instansi, lembaga, perguruan tinggi, sekolah, TNI, Polri, dan swasta turut hadir.
‎
Ketua Steering Committee Gunarta Adibrata mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap batik sebagai identitas budaya bangsa Indonesia yang mendunia, sekaligus menyambut Hari Batik Nasional.
‎
“Kami berharap seluruh masyarakat dapat menghadiri dan menonton event Simfoni 1001 Pembatik,” ujar panitia saat jumpa pers, Selasa (29/9/2026).
‎
‎Kegiatan berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 15.00 WIB, mengambil lokasi sepanjang Jalan Malioboro dari Perempatan Batik Terang Bulan sampai Titik Km 0.
‎
Menurut panitia, event ini juga menyambut Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober setelah pengakuan UNESCO pada 2009 terhadap batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.
‎
Pengakuan tersebut menempatkan batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, sekaligus memperkuat kewajiban melestarikan tradisi membatik antargenerasi bagi generasi muda Indonesia hingga kini.
‎
Yogyakarta dinilai memiliki alasan kuat menyandang predikat Kota Batik Dunia karena memenuhi sejumlah kriteria keunggulan internasional Dewan Kerajinan Dunia atau WCC sejak Oktober 2014 lalu.
‎
Tradisi membatik Yogyakarta memiliki nilai sejarah panjang, berakar dari lingkungan Keraton Mataram, yang melahirkan beragam motif klasik dengan kandungan filosofis mendalam yang diwariskan lintas generasi.
‎
Selain sejarah, Yogyakarta mempertahankan keaslian motif tradisional, teknik membatik, serta pewarnaan khas seperti sogan cokelat tua dan perpaduan hitam putih hingga kini tetap terjaga.
‎
Nilai pelestarian juga terlihat dari pewarisan keterampilan membatik secara turun-temurun melalui komunitas, institusi, sentra kerajinan, serta berbagai agenda kebudayaan yang menjadi ciri khas Yogyakarta.
‎
Panitia menyoroti Jogja International Batik Biennale sebagai salah satu ruang penting yang ikut menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan batik Yogyakarta kepada dunia di berbagai penjuru dunia.
‎
Dari sisi ekonomi, batik menghidupkan banyak sentra produksi rakyat, termasuk Giriloyo, yang menjadi bagian penting dalam pergerakan ekonomi masyarakat lokal dan terus berkembang secara konsisten.
‎
Yogyakarta juga memiliki praktik membatik yang memperhatikan lingkungan, terutama melalui sebagian perajin tradisional yang masih menggunakan bahan pewarna alami di tengah tantangan industri modern.
‎
Di tingkat global, batik Yogyakarta terus dikembangkan secara berkelanjutan, sekaligus dipertahankan sebagai identitas budaya yang mampu menembus berbagai ruang internasional dan tetap relevan bagi masa depan.
‎
Event Simfoni 1001 Pembatik turut menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT Kota Yogyakarta ke-270 yang diperingati pada 7 Oktober 2026 mendatang sekaligus menguatkan identitas kota.
‎
Acara tersebut masuk dalam tujuh event unggulan HUT Kota Yogyakarta ke-270 dengan mengusung tema “Otentik, Konkret” sebagai semangat perayaan tahun ini selama rangkaian acara berlangsung.
‎
Tak hanya membatik bersama, panitia menyiapkan gelar tari dan musik serta sejumlah booth UMKM untuk memperkenalkan produk kreatif kepada pengunjung Malioboro dan seluruh masyarakat Yogyakarta.
‎
“Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mendaftar,” demikian disampaikan panitia sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut atas kolaborasi yang telah terjalin.
‎
Panitia juga menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Kebudayaan RI, Pemda DIY, Pemkot Yogyakarta, Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, serta Dekranasda DIY demi kelancaran penyelenggaraan acara.
‎
Dukungan sponsor turut diapresiasi karena dinilai membantu pelaksanaan kegiatan yang membawa pesan pelestarian budaya sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi kreatif masyarakat Yogyakarta dan mendukung keberlangsungan acara.
‎
Media cetak, elektronik, dan online juga mendapat apresiasi panitia karena ikut memperluas publikasi event agar informasi kegiatan menjangkau masyarakat secara lebih luas di kawasan Malioboro.
‎
Rencananya, Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY akan membuka kegiatan yang dipusatkan di kawasan ikonik Malioboro tersebut pada Sabtu pagi.
‎
Simfoni 1001 Pembatik diharapkan menjadi panggung kebersamaan, mempertemukan pembatik, pelajar, mahasiswa, lembaga, komunitas, pemerintah, dan masyarakat dalam semangat menjaga warisan budaya sebagai simbol kebanggaan bersama.. (waw)