Road to DESIK 2026 Hadirkan Musik dan Ruang Ekspresi untuk Kesehatan Mental Anak Muda

FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA — Road to DESIK 2026 menghadirkan konsep berbeda dengan menggabungkan musik dan isu kesehatan mental dalam sebuah ruang yang dirancang untuk memberikan pengalaman emosional bagi anak muda.

Digelar di Joglo GIK UGM, Yogyakarta, Kamis (24/9/2026), Road to DESIK 2026 menjadi bagian dari perjalanan menuju gelaran utama DESIK 2026. Acara ini tidak sekadar menawarkan pertunjukan musik, tetapi juga menghadirkan ruang bagi pengunjung untuk berhenti sejenak, menikmati musik, sekaligus merefleksikan kondisi diri.

Founder Sans Creative, Iksan Kukuh, mengatakan DESIK sejak awal memang dirancang bukan hanya sebagai festival musik. Konsep yang dibangun mengarah pada destinasi wisata psikologis dengan fokus pada kesehatan mental.

“Lebih saya ingin menciptakan destinasi wisata baru. Destinasi wisata yang bentuknya itu wisata psikologis. Fokusnya kepada mental health dan di situ juga ada musiknya,” ujar Iksan Kukuh saat ditemui wartawan seusai Road to DESIK 2026 di Joglo GIK, Kamis (24/9/2026).

Menurut Iksan, musik dipilih karena memiliki kedekatan dengan kehidupan banyak orang ketika menghadapi tekanan atau situasi yang melelahkan.

DESIK kemudian mencoba menghadirkan pengalaman mendengarkan musik secara langsung dalam suasana yang lebih reflektif. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati penampilan musisi, tetapi juga diberi ruang untuk merasakan dan meluapkan emosi.

“Biasanya orang itu kalau lagi stres, lagi hectic, pekerjaan, hidup, larinya adalah mendengarkan musik. Pasang headphone, pasang earphone, mendengarkan musik sendiri. Kita sajikan secara live,” katanya.

Salah satu hal yang menjadi bagian dari konsep DESIK adalah memberikan ruang bagi mereka yang kesulitan mengungkapkan apa yang sedang dirasakan.

Kukuh menyebut pihaknya menghadirkan sejumlah aktivasi yang memungkinkan pengunjung mengekspresikan emosi secara anonim.

Melalui aktivasi tersebut, pengunjung dapat merekam cerita atau curhatan mengenai persoalan yang sedang mereka hadapi. Mulai dari persoalan skripsi, keluarga hingga berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi Billy Curhat itu secara anonim kita akan rekam curhatan seseorang. Ada yang mungkin lagi beban dengan skripsinya, orang tuanya, masalah keluarga, tapi secara anonim dia boleh bercerita di situ,” jelas Iksan.

Privasi peserta juga menjadi perhatian. Menurut Iksan, cerita yang direkam tidak serta-merta dipublikasikan. Peserta terlebih dahulu dimintai persetujuan mengenai penggunaan rekaman tersebut.

Jika mendapat izin, rekaman curhat dapat menjadi bagian dari rangkaian acara utama DESIK dan diperdengarkan di sela-sela pergantian penampilan musisi.

Konsep tersebut sebelumnya juga telah diterapkan pada penyelenggaraan DESIK tahun 2025.

Mindfulness Practitioner Adjie Santosoputro yang turut hadir dalam Road to DESIK 2026 menilai kegiatan seperti ini dapat memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental.

Menurut Adjie, isu kesehatan mental selama ini terkadang hanya menjadi perhatian kelompok tertentu. Kehadiran ruang publik yang mengangkat tema tersebut dinilai dapat membuat pembicaraan mengenai kesehatan mental semakin luas.

“Kesadaran akan mental health ini bisa lebih banyak orang yang lebih peduli dan kesadaran akan kesehatan mental,” ujar Adjie.

Ia juga menyinggung meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental. Menurutnya, kesadaran tersebut dapat menjadi hal positif apabila diikuti dengan upaya untuk memahami dan menjaga kondisi mental.

Adjie mendorong anak muda untuk tidak selalu memendam persoalan seorang diri ketika membutuhkan bantuan.

“Jadi jangan hanya terus terlalu, apa ya, hanya berlebihan menyadari kesehatan mental tanpa ada kemampuan untuk menyatakan mental. Karena sebaiknya jangan terus terlalu didramatisir, terlalu dibikin dramanya,” katanya.

Ia juga menyarankan agar orang yang merasa membutuhkan bantuan tidak ragu mencari pertolongan dari tenaga profesional, seperti psikolog maupun psikiater.

Adjie menambahkan, profesional kesehatan mental secara akademis dan pendidikan memiliki standar untuk memberikan layanan tanpa menghakimi orang yang datang untuk mendapatkan bantuan.

“Kalau memang profesional ya, maksudnya orang tersebut psikolog-psikiater tentu saja dia tidak ngejudge,” ujarnya.

Sementara itu, Kukuh menegaskan bahwa DESIK memang memiliki pendekatan berbeda dengan festival musik pada umumnya.

Musik menjadi salah satu medium utama, tetapi tema kesehatan mental tetap menjadi benang merah dalam penyelenggaraannya.

“Ini event tahun kedua kita. Tahun 2025 kita pernah satu hari itu, itu juga mengangkatnya mental health juga. Jadi orang menikmati musik dengan duduk, merenung sambil menghayati,” ungkap Kukuh.

Ia berharap DESIK dapat menjadi ruang yang membuat pengunjung merasa lebih leluasa mengekspresikan emosi.

Bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit, Iksan menyampaikan pesan agar tidak takut menjadi diri sendiri dan berani menyampaikan apa yang dirasakan.

“Pesanku buat teman-teman yang mungkin lagi mental breakdown, mental health-nya mungkin kurang, lagi tidak merasa baik-baik saja, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Sampaikan apa yang perlu disampaikan, suarakan apa yang perlu disuarakan, ceritakan apa yang perlu diceritakan,” tuturnya.

Melalui Road to DESIK 2026, rangkaian menuju gelaran utama tersebut sekaligus memperkenalkan pengalaman yang ingin dibawa DESIK kepada publik: menikmati musik, merasakan atmosfer, sekaligus menyediakan ruang untuk refleksi dan ekspresi diri. Informasi mengenai DESIK 2026 dapat diakses melalui akun Instagram @desik.official. (Aga)