Behel Murah Jadi Tren, Dokter Gigi UMY Ingatkan Bahaya Pemasangan oleh Tenaga Nonprofesional

FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Tren pemasangan behel atau kawat gigi untuk menunjang penampilan perlu diwaspadai, terutama jika dilakukan oleh tenaga nonprofesional dan tanpa standar medis. Selain berpotensi menyebabkan kerusakan gigi dan jaringan di sekitarnya, penggunaan instrumen yang tidak steril juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit melalui paparan darah.

Peringatan tersebut disampaikan dokter gigi spesialis ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKG UMY), drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort., dalam talk show kesehatan gigi di Auditorium Graha Bhumi Phala, Temanggung, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Community Service #3 FKG UMY yang menghadirkan edukasi kesehatan gigi dan mulut bagi pelajar serta masyarakat umum.

Puspitarini menjelaskan bahwa salah satu persoalan dalam pemasangan behel oleh tenaga nonprofesional adalah penggunaan instrumen yang tidak memenuhi standar sterilisasi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi maupun penularan penyakit yang dapat ditransmisikan melalui darah.

Karena itu, masyarakat perlu memastikan bahwa tindakan perawatan ortodonti dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten di fasilitas pelayanan kesehatan dengan prosedur sterilisasi yang sesuai.

Behel Bukan Aksesori

Menurut Puspitarini, ada sejumlah faktor yang mendorong masyarakat, terutama kalangan remaja, tertarik memasang behel di luar layanan profesional. Salah satunya adalah kemudahan mendapatkan perangkat kawat gigi dengan harga murah melalui platform e-commerce.

Ia menyebut perangkat tersebut dapat ditemukan dengan harga sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Harga yang relatif murah dapat menarik konsumen yang ingin menggunakan kawat gigi tanpa menjalani prosedur perawatan ortodonti sebagaimana mestinya.

Faktor lainnya adalah pengaruh tren media sosial. Fenomena fear of missing out (FOMO) dapat membuat sebagian orang tertarik menggunakan behel karena melihat teman, figur publik, maupun idola mengenakannya.

“Behel atau kawat gigi itu alat medis, bukan aksesori. Sehingga tujuannya bukan untuk gaya-gayaan, dan bukan barang yang bisa dibeli lalu dipasang sendiri,” jelas Puspitarini di hadapan ratusan pelajar dan masyarakat umum.

Perawatan ortodonti pada dasarnya bukan sekadar menempelkan bracket dan kawat pada gigi. Perawatan tersebut melibatkan proses diagnosis, perencanaan, pengaturan gaya yang diberikan pada gigi, serta pemantauan pergerakan gigi selama masa perawatan.

Pemasangan Sembarangan Bisa Merusak Gigi

Selain risiko infeksi, Puspitarini mengingatkan bahwa pemasangan behel tanpa perencanaan yang tepat dapat menimbulkan berbagai persoalan pada gigi dan jaringan penyangganya.

Tekanan atau gaya ortodonti yang diberikan secara tidak tepat dapat menyebabkan pergerakan gigi yang tidak terkontrol dan berisiko merusak jaringan penyangga gigi.

Dalam kondisi tertentu, penggunaan gaya ortodonti yang tidak sesuai juga dapat berhubungan dengan kerusakan jaringan periodontal maupun resorpsi akar gigi. Jika kerusakan jaringan penyangga cukup berat, stabilitas gigi dapat terganggu sehingga gigi menjadi goyang.

Pemasangan yang tidak sesuai prosedur juga dapat menyebabkan luka dan iritasi pada jaringan lunak di dalam mulut. Selain menimbulkan rasa sakit, masalah yang muncul akibat pemasangan tidak profesional dapat membutuhkan perawatan lanjutan dan menambah biaya bagi pasien.

Puspitarini mengingatkan bahwa biaya untuk memperbaiki kerusakan akibat pemasangan behel sembarangan pada akhirnya dapat lebih besar dibandingkan menjalani perawatan ortodonti yang sesuai sejak awal.

Tren Perawatan Ortodonti Nonprofesional Pernah Diteliti di Yogyakarta

Fenomena penggunaan layanan ortodonti oleh tenaga nonprofesional bukan persoalan baru. Penelitian di Yogyakarta pada 2021 terhadap 75 remaja berusia 15–18 tahun di SMK Negeri 4 Yogyakarta pernah mengkaji persepsi remaja terhadap perawatan ortodonti yang dilakukan oleh tenaga nonprofesional.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa popularitas perawatan ortodonti di kalangan remaja turut membuka ruang bagi penyedia jasa nonprofesional untuk menawarkan pemasangan kawat gigi.

Fenomena ini menjadi perhatian karena keputusan memasang behel dapat dipengaruhi tidak hanya oleh kebutuhan kesehatan gigi, tetapi juga pertimbangan estetika, harga, lingkungan sosial, dan tren.

Karena itu, edukasi kepada remaja menjadi penting agar kawat gigi tidak dipandang semata-mata sebagai aksesori penampilan.

Perawatan Ortodonti Perlu Diawali Pemeriksaan

Menurut Puspitarini, masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan dokter gigi sebelum memutuskan menjalani perawatan ortodonti.

Pemasangan kawat gigi perlu didahului pemeriksaan untuk mengetahui kondisi gigi, jaringan penyangga, hubungan rahang, serta kebutuhan perawatan masing-masing pasien. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan penunjang seperti radiografi juga diperlukan untuk membantu dokter menyusun diagnosis dan rencana perawatan.

Tahapan tersebut penting karena kondisi setiap pasien berbeda. Jenis alat, arah pergerakan gigi, besarnya gaya yang diberikan, hingga lama perawatan tidak dapat disamakan antara satu pasien dengan pasien lainnya.

Dengan demikian, membeli perangkat kawat gigi secara daring kemudian memasangnya sendiri bukan pengganti perawatan ortodonti profesional.

Puspitarini juga mengimbau masyarakat memastikan bahwa perawatan dilakukan oleh tenaga medis yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai ketentuan.

Pemerintah saat ini telah mengintegrasikan registrasi tenaga medis dan tenaga kesehatan melalui ekosistem SATUSEHAT SDMK. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR) tenaga medis dan tenaga kesehatan dilakukan melalui portal tersebut.

Langkah verifikasi penting dilakukan agar masyarakat tidak mudah tergiur penawaran pemasangan behel murah dari pihak yang tidak memiliki kompetensi medis.

Keberhasilan Perawatan Butuh Komitmen Pasien

Selain kompetensi dokter, keberhasilan perawatan ortodonti juga membutuhkan kedisiplinan pasien. Pasien perlu mengikuti jadwal kontrol, menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta menaati berbagai instruksi selama menjalani perawatan.

“Keberhasilan perawatan ortodontik adalah hasil dari dokter dan pasien. Lima puluh persen merupakan kinerja dokter, lima puluh persen dari komitmen pasien,” pungkas Puspitarini.

Melalui edukasi tersebut, ia berharap masyarakat tidak menjadikan harga murah maupun tren sebagai pertimbangan utama dalam memasang kawat gigi. Perawatan ortodonti perlu ditempatkan sebagai tindakan kesehatan yang membutuhkan diagnosis, prosedur yang tepat, standar sterilisasi, dan pengawasan tenaga profesional. (lsi)

Sumber : Humas umy