Udhik-Udhik Sultan Bikin Malam Kondur Gangsa Makin Magis Keraton

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Ratusan warga memadati Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta sejak Selasa (25/8/2026) sore demi menyaksikan Kondur Gangsa yang sarat tradisi, doa, dan keberkahan malam ini.

‎Mereka berdatangan sejak pukul enam sore, membawa harapan mendapat Udhik-Udhik langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X malam itu dan penuh.

‎Suasana semakin magis ketika warga memenuhi kawasan masjid, menanti prosesi pengembalian Gamelan Kanjeng Kiai Sekati menuju kompleks Keraton Yogyakarta malam ini yang dinantikan.

‎Salah seorang warga, Pak Kanthong asal Muntilan, mengaku beruntung memperoleh dua keping Udhik-Udhik masing-masing bernilai Rp500 dari Sultan malam itu dengan rasa bahagia.

‎Menurut Pak Kanthong, nominal uang bukanlah tujuan utama, melainkan keberkahan yang dipercaya melekat pada Udhik-Udhik pemberian Raja Keraton Yogyakarta hingga kini bagi keluarga.

‎”Ini bukan soal seribu rupiahnya,” ujar Pak Kanthong, sambil menyimpan dua koin tersebut sebagai simbol ngalap berkah dengan penuh haru dan ngalap berkah.

‎Tradisi Kondur Gangsa menjadi penanda berakhirnya rangkaian Hajad Dalem Sekaten yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan masjid bagi masyarakat.

‎Dalam prosesi tersebut, Gamelan Kanjeng Kiai Sekati dikembalikan ke dalam Keraton setelah sebelumnya ditempatkan di Pagongan selama rangkaian Sekaten hingga malam berakhir dengan.

‎Antusiasme warga terlihat dari padatnya area sekitar Masjid Gedhe, meski pelaksanaan Garebeg Mulud tahun ini berlangsung lebih sederhana malam itu di malam hari.

‎”Warga tetap antusias datang,” kata salah seorang pengunjung, menggambarkan kuatnya daya tarik tradisi Keraton bagi masyarakat berbagai daerah malam ini tetap hangat warga.

‎Kesederhanaan pelaksanaan Garebeg Mulud tahun ini merupakan bagian dari Dhawuh Dalem atau perintah Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X secara resmi.

‎Berbeda dari tahun sebelumnya, rangkaian tahun ini tidak menghadirkan prosesi rayahan gunungan yang biasanya menjadi magnet kerumunan warga di kawasan masjid malam ini.

‎Meski tanpa rayahan gunungan, masyarakat tetap rela menunggu demi menyaksikan tradisi sekaligus memperoleh Udhik-Udhik yang dibagikan keluarga Keraton malam itu bagi warga.

‎Para Putri Dalem dan Mantu turut membagikan Udhik-Udhik kepada warga di kawasan Pagongan Lor dan Pagongan Kidul malam tersebut pada malam tersebut dengan.

‎”Alhamdulillah dapat dua koin,” ungkap Pak Kanthong, yang berniat menyimpan Udhik-Udhik tersebut sebagai kenang-kenangan sekaligus ngalap berkah malam itu dengan penuh bahagia.

‎Kehadiran warga dari berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi Sekaten masih memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya dengan penuh syukur hingga.

‎Bagi masyarakat, Kondur Gangsa bukan sekadar prosesi budaya, melainkan peristiwa spiritual yang mempertemukan tradisi, doa, dan kebersamaan warga hingga sekarang di Yogyakarta.

‎Suasana malam semakin khidmat ketika warga menyaksikan perjalanan gamelan kembali menuju Keraton, menandai selesainya seluruh rangkaian Hajad Dalem Sekaten malam tersebut bagi masyarakat.

‎Tradisi tersebut kembali memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan budaya Keraton, sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup lintas generasi hingga selesai di Yogyakarta.

‎Antusiasme warga menjadi bukti bahwa kesederhanaan acara tidak mengurangi makna Kondur Gangsa sebagai tradisi penting dalam kalender budaya Yogyakarta bagi masyarakat hingga malam.(waw)