Yogyakarta Kembali Semarakkan Perfilman, APEKFI dan BIOSRA Kasihan Gelar Festival Film Pendek

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Yogyakarta kembali menghidupkan ekosistem perfilman melalui festival film pendek yang digagas APEKFI bersama BIOSRA Kasihan, Bantul, untuk mempertemukan pembuat film dengan publik secara langsung.
‎
Festival ini muncul dari potensi kreatif Yogyakarta yang melahirkan sineas penting dan karya film beragam, inovatif, serta berkarakter kuat dan berani di daerah.
‎
Sejumlah nama seperti Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, Ifa Isfansyah, Fajar Nugros hingga Eddie Cahyono turut mewarnai perjalanan perfilman Yogyakarta dari masa ke masa.
‎
Ketua Umum APEKFI sekaligus penggerak BIOSRA Kasihan, Y. Endiarto, SH, menyebut festival menjadi ruang baru bagi kreator lokal untuk berkarya dan membangun jejaring.
‎
“Yogyakarta ini gudangnya kreativitas. Banyak sineas dan kreator film yang lahir dan berkembang di sini,” ujar Endiarto kepada wartawan dan publik secara terbuka.
‎
Menurut Endiarto, ruang berkarya harus diperluas agar film pendek buatan kreator lokal tidak berhenti sebagai karya pribadi tanpa penonton dan apresiasi secara berkelanjutan.
‎
“Tinggal bagaimana kita memberikan ruang agar mereka bisa berkarya dan karyanya bisa ditonton masyarakat,” katanya menegaskan pentingnya akses penonton secara luas dan berkelanjutan.
‎
Festival tersebut juga diarahkan menjadi ajang kompetisi sekaligus pertemuan kreator dengan penonton, komunitas, pelaku usaha, serta berbagai pihak pendukung industri kreatif secara nyata.
‎
“Ya kita mau mengaktivasi kreator lokal untuk bisa lebih eksis, untuk karya film pendek, dilombakan semacam itu,” kata Endiarto kepada publik bagi masyarakat.
‎
Selain festival, APEKFI memperkenalkan diri sebagai wadah baru yang menaungi pekerja dalam ekosistem film dan industri kreatif Indonesia yang terus berkembang nasional saat ini.
‎
Keanggotaan APEKFI mencakup artis, kru film, pekerja televisi dan radio, selebgram, TikToker, YouTuber, hingga pelaku media sosial lainnya dalam berbagai bidang kreatif di Indonesia.
‎
“APEKFI ini menjadi wadah baru bagi pelaku ekosistem film,” jelas Endiarto, saat menjelaskan cakupan pekerja kreatif yang dirangkul organisasinya dalam berbagai bidang saat ini.
‎
APEKFI memiliki dua visi utama, yakni memberikan bantuan serta advokasi hukum dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh anggota yang tergabung secara berkelanjutan dan nyata.
‎
“Visinya hanya dua, memberikan bantuan advokasi hukum dan memberikan kesejahteraan melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan,” ungkap Endiarto agar anggota memperoleh jaminan sosial.
‎
Kerja sama tersebut diharapkan membantu pekerja kreatif memperoleh perlindungan sosial, terutama karena banyak pekerja menjalankan pekerjaan berdasarkan proyek dan kontrak bagi pekerja kreatif.
‎
Menurut Endiarto, perlindungan menjadi penting karena belum semua pekerja kreatif memiliki jaminan sosial maupun akses pendampingan hukum ketika menghadapi persoalan pekerjaan sehari-hari yang dihadapi.
‎
Keberadaan BIOSRA atau Bioskop Rakyat di Kasihan, Bantul, turut memperkuat gagasan festival sebagai ruang alternatif pemutaran film pendek lokal bagi karya kreator setempat.
‎
APEKFI dan BIOSRA Kasihan berharap festival membuka jalur berkelanjutan, mempertemukan kreator, penonton, komunitas, sponsor, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan demi memperkuat ekosistem lokal.(waw)