Nasiwan: Politik Harus Berpijak pada Cinta, Moral, dan Kemanusiaan

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Politik kerap dipahami sebagai perebutan kekuasaan. Namun, Dr. Nasiwan M.Si menawarkan pandangan berbeda: politik juga membutuhkan cinta, kepedulian, moral, dan keberanian. Gagasan itu dituangkan dalam buku Chicken Soup for Politics: Mencintai Indonesia Ala Rakyat Biasa, yang mengajak masyarakat melihat politik lebih manusiawi setiap hari.

Menurut Nasiwan, persoalan bangsa tidak boleh membuat masyarakat kehilangan optimisme. Justru, masalah politik harus menjadi alasan untuk terus memperbaiki keadaan bersama secara nyata. “Kita itu bahkan dalam setiap aspek apa pun, termasuk dalam aspek politik, kita tidak boleh pesimis. Optimis itu harus ada,” ujar Nasiwan.

Namun, optimisme saja dinilai belum cukup. Manusia membutuhkan kepekaan batin agar mampu melihat persoalan yang menyimpang dari nilai ideal kehidupan secara kritis bersama. Kepekaan tersebut, kata Nasiwan, seharusnya mendorong seseorang tidak sekadar mengeluh. Masyarakat perlu berani terlibat dalam upaya memperbaiki keadaan secara konsisten demi perubahan bersama.

Dari pemikiran itu, Nasiwan menghubungkan politik dengan tasawuf. Ia menawarkan konsep tasawuf politik yang menempatkan moral serta spiritualitas dalam kehidupan politik secara berkelanjutan. Salah satu nilai yang ditekankan ialah mahabah atau cinta. Bagi Nasiwan, cinta mencakup Tuhan, manusia, bangsa, lingkungan, tumbuhan, dan makhluk hidup secara luas.

“Tasawuf itu penting untuk membuka nasionalisme. Karena tasawuf memanggilkan mahabah: mencintai Allah, mencintai manusia, mencintai bumi ini,” katanya, saat menjelaskan gagasannya tersebut terus. Ketika rasa cinta semakin hilang, menurut Nasiwan, politik mudah dipenuhi kebencian, kepentingan pribadi, harta, serta kekuasaan sehingga hubungan menjadi transaksional dalam masyarakat langsung.

Dalam kondisi tersebut, lawan politik mudah dipandang sebagai musuh. Padahal, perbedaan merupakan bagian demokrasi yang seharusnya tetap disikapi secara manusiawi dalam demokrasi tetap. “Memandang orang lawan bahkan dengan cinta. Jadi melihat orang itu dengan rahmah,” ujar Nasiwan, menekankan pentingnya kemanusiaan dalam menghadapi perbedaan politik secara bijaksana.

Pegiat literasi Yusuf Maulana menilai buku Nasiwan menarik karena membahas hubungan politik dan moral secara sistematis, sekaligus relevan dengan kondisi Indonesia di Indonesia. Menurut Yusuf, buku tersebut tidak hanya penting bagi mahasiswa, akademisi, dan agamawan. Politisi juga dapat menjadikannya bahan refleksi terhadap perilaku politik secara terbuka.

Nasiwan turut menyoroti menguatnya hubungan transaksional dalam masyarakat. Menurutnya, kecenderungan itu bukan hanya terjadi dalam politik, tetapi juga pendidikan dan kampus dalam kehidupan. “Di kampus-kampus, sekolah-sekolah juga sudah semakin menipis orang itu merasakan cinta dari gurunya, merasakan sayang dari gurunya,” katanya, menyoroti kondisi pendidikan kini kita.

Karena itu, Nasiwan menekankan konsistensi. Politik tidak cukup diperbaiki melalui semangat sesaat; kebaikan harus terus diperjuangkan meski hasilnya belum langsung terlihat untuk Indonesia.(waw)