Festival Sastra Yogyakarta 2026 “LAKU” Satukan Pelaku dan Pegiat Sastra

FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta kembali menggelar Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. Mengusung tema “LAKU”, festival ini akan berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetty Martanti, S.Sos., MM, mengatakan FSY 2026 tidak hanya diarahkan sebagai festival pertunjukan sastra, tetapi menjadi ruang pertemuan berbagai unsur dalam ekosistem sastra, mulai dari penulis, sastrawan, akademisi, penerbit, komunitas, pelaku budaya hingga masyarakat pembaca.

Hal tersebut disampaikan Yetty dalam jumpa pers Festival Sastra Yogyakarta 2026 bertema “LAKU” di Ruang Wijaya Kusuma, Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, tema “LAKU” memandang sastra sebagai sebuah perjalanan sekaligus praktik yang dilakukan secara terus-menerus. Menulis, membaca, mengkaji, mengkritik, mengajarkan, menerbitkan hingga mendistribusikan buku merupakan bagian dari laku sastra.

“Melalui FSY 2026, kami ingin memperluas pembicaraan tentang sastra, dari sekadar karya menuju ekosistem dan praktik kesastraan yang berkembang di masyarakat,” ujar Yetty.

FSY sebelumnya mengangkat tema “Mulih” pada 2022, “Sila” pada 2023, “Siyaga” pada 2024, dan “Rampak” pada 2025. Tema “LAKU” menjadi penanda perjalanan festival sekaligus dasar pengembangan berbagai program pada tahun ini.

Festival Sastra Yogyakarta 2026 dikembangkan oleh tiga kurator, yakni Paksi Raras Alit, Ramayda Akmal, dan Fairuzul Mumtaz. Ketiganya bersama penyelenggara menerjemahkan gagasan “LAKU” ke dalam berbagai program yang melibatkan pelaku dan komunitas sastra.

Sejumlah program yang disiapkan antara lain Pasar Buku Sastra, Gunungan Buku, bedah buku, diskusi dan workshop penulisan, pameran apresiasi karya sastra, kuratorial dan artis talk, Poetry Jam, Haul Sastrawan Jogja, Orasi Budaya, Open Stage Sastra “Bacalah”, serta Seminar Nasional.

Pasar Buku Sastra menjadi salah satu ruang utama festival. Program tersebut mempertemukan penerbit, penulis, komunitas dan pembaca. Sejak 2025, FSY berkolaborasi dengan Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI DIY) dalam penyelenggaraan bazar buku.

Selain menghadirkan berbagai judul buku, Pasar Sastra juga dilengkapi panggung diskusi yang membahas buku, sastra dan perkembangan ekosistem literasi.

Rangkaian FSY 2026 akan dibuka pada Minggu, 23 Agustus 2026, mulai pukul 19.30 WIB di Panggung Teras depan Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan.

Pembukaan akan menghadirkan orasi budaya bertema “Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup”. Orasi tersebut menjadi pengantar gagasan utama FSY 2026 mengenai sastra sebagai bagian dari proses akademik sekaligus kehidupan masyarakat.

Pembukaan juga akan melibatkan anak-anak pemenang kompetisi bahasa dan sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas apresiasi dan regenerasi sastra sejak usia dini.

Sementara itu, panggung penutupan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, mulai pukul 19.30 WIB di Amphitheatre Taman Budaya Embung Giwangan.

Salah satu agenda utama penutupan adalah Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2026. Sayembara tersebut membuka ruang partisipasi bagi penulis dari berbagai daerah di Indonesia.

Hingga Rabu (19/8/2026), sekitar 2.500 karya puisi telah diterima panitia dan jumlah tersebut masih terus bertambah. Sayembara berlangsung pada 21 Juli hingga 21 Agustus 2026 dengan total hadiah Rp5 juta.

Adapun juri sayembara terdiri dari An Ismanto selaku Redaktur Suku Sastra, Hasta Indriyana selaku penulis, serta Nur Wahida Idris selaku penulis.

Panggung penutupan FSY 2026 juga akan menghadirkan Dee Lestari dan Kiai Kanjeng sebagai bagian dari perayaan bersama setelah seluruh rangkaian festival berlangsung selama sepekan.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga menempatkan sastra Indonesia dan sastra Jawa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam FSY 2026.

Yogyakarta dinilai memiliki posisi penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern sekaligus mempunyai tradisi sastra Jawa yang panjang dan masih hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, FSY tidak memosisikan sastra Indonesia dan sastra Jawa sebagai dua wilayah yang terpisah. Keduanya dipandang sebagai bagian dari ekosistem sastra Yogyakarta yang dapat berinteraksi dan saling memperkaya.

“FSY 2026 berupaya memberikan ruang bagi bahasa, karya, pelaku, komunitas dan tradisi sastra Indonesia maupun sastra Jawa,” kata Yetty.

Penyelenggaraan FSY 2026 juga melibatkan berbagai pihak, di antaranya IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, Program Studi Sastra Jawa FIB UGM, Magister Sastra UGM, Dinkop UMKM DIY, komunitas aksara Jawa se-DIY/Jawa Tengah, komunitas sastra, sastrawan, budayawan, akademisi, penerbit dan pelaku industri buku.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. Pemerintah berperan menyediakan ruang, fasilitasi dan dukungan kebijakan, sementara komunitas, sastrawan, akademisi, penerbit, media dan masyarakat turut menghidupkan ekosistem sastra melalui pengetahuan, jaringan dan kreativitas masing-masing.

Lebih jauh, FSY 2026 tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan rangkaian acara selama delapan hari. Festival juga diarahkan menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai pihak yang selama ini bergerak dalam ekosistem sastra.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat melahirkan kolaborasi, jaringan dan gagasan baru yang tetap berjalan setelah festival berakhir.

Keberhasilan festival pun tidak semata diukur dari jumlah kegiatan atau pengunjung. Lebih dari itu, FSY diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap sastra, mempertemukan para pelaku, membuka ruang apresiasi dan memperkuat keberlanjutan ekosistem sastra di Yogyakarta.

Dengan tema “LAKU”, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan menegaskan sastra sebagai bagian penting dari kehidupan kebudayaan kota.

Sastra tidak hanya menjadi ruang bagi penulis dan akademisi, tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, menyimpan ingatan serta membangun cara pandang terhadap lingkungan sosial.

“Melalui FSY 2026, kami ingin festival ini bukan hanya menjadi festival yang ditonton, tetapi menjadi ruang yang diikuti, digunakan dan dihidupkan bersama,” pungkas Yetty.

Masyarakat Yogyakarta dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia dapat mengikuti Festival Sastra Yogyakarta 2026 yang berlangsung pada 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta. (Aga)