PDIP Sleman Dorong Perempuan Ambil Peran Strategis dalam Demokrasi
FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menggelar sarasehan bertajuk Perempuan dan Demokrasi: Jas Merah di Joglo Cemoro, Kamis (6/8/2026) sore, penuh semangat kebangsaan. Kegiatan di Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, tersebut dihadiri sekitar 150 kader perempuan dari daerah pemilihan selatan Sleman mengikuti pendidikan politik bersama.
Sarasehan menjadi momentum memperkuat kesadaran politik kader perempuan sekaligus mengenang peristiwa 27 Juli 1996 sebagai bagian perjalanan demokrasi Indonesia bersejarah. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga, My Esti Wijayati, menegaskan perempuan wajib tampil sebagai penggerak perubahan nyata dalam masyarakat. “Perempuan jangan hanya memenuhi kuota 30 persen, tetapi harus memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai AD/ART serta piagam perjuangan partai,” tegas Esti kepada peserta.
Esti mengatakan kepemimpinan perempuan telah lama menjadi tradisi PDI Perjuangan melalui figur Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani pada jabatan strategis nasional. “Kehadiran perempuan harus memberikan makna nyata di mana pun berada serta menghadirkan solusi bagi kepentingan masyarakat,” ujar Esti disambut tepuk tangan.
Ia menegaskan seluruh langkah politik PDI Perjuangan selalu berpijak pada ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta ajaran Bung Karno yang membela rakyat. “Kepatuhan pada konstitusi menjadi fondasi utama setiap kebijakan politik partai demi kepentingan masyarakat kecil,” tegas Esti kembali di hadapan seluruh peserta.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman, Danang Maharsa, menyebut sarasehan memperkuat pendidikan politik sekaligus meneruskan semangat Sarinah gagasan Bung Karno kepada kader.
Menurut Danang, konsep Sarinah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, pembangunan, serta perjuangan politik yang berkeadilan bagi semua. “Perempuan mempunyai hak dan kesempatan sama untuk memimpin serta menentukan arah pembangunan bangsa maupun daerah,” ujar Danang penuh keyakinan kepada kader.
Danang menegaskan keterwakilan perempuan minimal 30 persen bukan sekadar syarat administratif, melainkan penghormatan nyata terhadap hak politik perempuan Indonesia seluruhnya. “Perempuan bukan pelengkap politik, melainkan kekuatan utama yang mampu membawa perubahan besar bagi masyarakat,” tegas Danang di hadapan seluruh peserta sarasehan.
Ia menyebut PDI Perjuangan telah membuktikan komitmen menghadirkan pemimpin perempuan pada berbagai jabatan strategis mulai Ketua Umum, Presiden, hingga Ketua DPR RI.
Danang juga menyoroti jumlah penduduk perempuan Kabupaten Sleman yang besar sehingga memiliki posisi sangat strategis dalam memperkuat pembangunan dan demokrasi daerah berkelanjutan. “Semangat Jas Merah harus terus dijaga agar kader memahami sejarah sekaligus memperjuangkan masa depan rakyat dengan penuh tanggung jawab,” tandas Danang kepada peserta.
Sarasehan berlangsung penuh antusias, memperkuat komitmen kader perempuan PDI Perjuangan Sleman menjadi pelopor demokrasi, menjaga sejarah, sekaligus mengabdi kepada masyarakat luas.(ady)

