Kementerian Ekraf Perkuat Kebijakan Perfilman Nasional Berbasis Data
FAJARLAMPUNG.COM, Jakarta, 23 Juli 2026* – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui tata kelola data industri yang transparan, akurat, dan berkelanjutan. Terlebih, saat ini tren pertumbuhan film nasional sedang menuju ke arah yang lebih positif.
“Kementerian Ekraf ingin ekosistem perfilman Indonesia semakin besar, berkualitas, dan berkelanjutan. Selain memperluas akses layar dan distribusi film nasional, tentu kami ingin memperkuat kebijakan berbasis data yang mampu mendorong investasi, diversifikasi konten, serta kolaborasi internasional yang membuat pertumbuhan industri film Indonesia dapat terus terjaga,” kata Menteri Ekraf saat audiensi dengan Cinepoint di Autograph Tower, Thamrin Nine, Kamis (23/7).
Teuku Riefky menilai ketersediaan data industri yang komprehensif akan memperkuat presisi kebijakan pemerintah. Apalagi data Cinepoint mengungkap lonjakan pangsa pasar film Indonesia yang mencapai lebih dari 60 persen pada 2025. Pada semester pertama tahun 2026, terdapat 15 judul film yang berhasil melampaui 1 juta penonton—melampaui rata-rata capaian industri pada tahun sebelumnya.
“Pemerintah hadir sebagai fasilitator yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan seperti pegiat ekraf, investor, platform data, hingga lembaga terkait lain sehingga memiliki visi yang sama dalam mengembangkan ekosistem perfilman Indonesia yang sehat serta kompetitif. Kalau datanya kuat, kebijakan akan semakin tepat,” ungkap Teuku Riefky.
Sebagai langkah konkret atas pendekatan kolaboratif tersebut, Kementerian Ekraf menjajaki kemitraan strategis dengan Cinepoint. Kementerian tengah menyusun landasan kemitraan formal berupa Nota Kesepahaman (MoU) guna mengoptimalkan pengembangan infrastruktur data serta ekspansi layanan analitik agar lebih tepat sasaran.
“Bagi kami sebagai policy maker, tentu data-data dari Cinepoint akan sangat bermanfaat dan bisa menjadi dasar dalam perencanaan, penyusunan program, hingga intervensi kebijakan. Kami berharap ke depannya bisa bekerja sama dengan Cinepoint sebagai mitra data untuk membuat ekosistem perfilman nasional semakin kuat,” imbuh Agus Syarip Hidayat sebagai Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekraf.
Pada kesempatan yang sama, pihak Cinepoint memaparkan kesiapan peluncuran Cinepoint Pro, sebuah platform analitik perfilman berbasis Software as a Service (SaaS). Platform ini dirancang untuk menghimpun data box office, analisis tren media sosial, performa pemasaran, hingga demografi audiens serta persebaran lokasi penonton secara komprehensif.
“Cinepoint adalah platform data dan analitik untuk industri perfilman Indonesia. Kami mengembangkan Cinepoint Pro yang akan menghadirkan dimensi data berupa angka box office, pembicaraan sosial media terkait film tersebut, hingga variasi jumlah penonton dan lokasi yang coba dirangkum dalam platform nanti. Menteri Ekraf sudah sangat terbuka dan mendorong kerjasama dengan ide-ide yang bisa kita follow up lebih jauh lagi. Dimulai dari perspektif data sehingga semua pegiat industri memiliki tolak ukur dan visibilitas yang baik, kita upayakan agar industri perfilman dan stakeholders lainnya bisa memiliki transparansi yang jelas untuk meng-unlock atau membuka banyak opportunity lain dengan efektif,” jelas Vincent Putera sebagai Director/Cofounder Cinepoint.
Turut mendampingi Menteri Ekraf dalam audiensi tersebut yaitu Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Rian Syaf; Direktur Film, Animasi, dan Video, Doni Setiawan; Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), Reslyana Dwitasari; serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Gemintang Kejora Mallarangeng. Tampak pula Cofounder Cinepoint, Sigit Prabowo; Project Management Officer, Bertha Diana; beserta Content Lead, Juliant. (lsi)
Sumber : Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

