Alumni Pesantren Diharapkan Jadi Generasi Unggul, Berilmu, Beriman, dan Berkontribusi untuk Bangsa
FAJARLAMPUNG.COM, Pandeglang – Kepala Biro (Karo) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten, Rubal Faisal berpesan agar alumni pesantren menjadi insan berilmu dan beriman. Menjadi solusi dalam permasalahan kehidupan masyarakat dan menunjukkan akhlak yang baik.
“Santri setelah lulus bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh. Selain itu, menunjukkan akhlak yang baik,” kata Rubal dalam Haflatul Ikhtitam Pondok Pesantren Nurul Mursyidah, Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Kamis (9/7/2026).
Haflatul Ikhtitam adalah perayaan akhir tahun atau acara wisuda dan perpisahan bagi santri di lingkungan pondok pesantren. Haflatul Ikhtitam menandai kelulusan siswa tingkat akhir dan santri dikukuhkan sebagai alumni.
Rubal memaparkan mengenai konsep manusia yang terbagi empat tipe. Pertama adalah manusia yang bodoh. Yaitu, tipe manusia yang selalu mencari-cari kesalahan orang.
“Jadi, kalau ada yang diobrolkannya itu mencari-cari kesalahan orang, itulah tipe manusia yang bodoh,” paparnya.
Kedua adalah manusia biasa. Yaitu, orang yang selalu membicarakan masalah. “Manusia yang selalu membahas masalah yang ada,” tuturnya.
Sedangkan tipe yang ketiga, menurut Rubal, adalah tipe orang-orang berilmu. Orang berilmu itu adalah orang yang selalu berpikir mencari solusi dari masalah.
“Bagaimana dia menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada,” katanya.
Terakhir, adalah tipe orang yang beriman. Orang yang beriman adalah di dalamnya ada yang berakhlak. Setiap orang berilmu harus dibarengi akhlak yang baik.
“Saya berharap alumni-alumni dari Pondok Pesantren Nurul Mursyidah ini masuk dalam kategori kelompok manusia yang berilmu dan beriman,” katanya.
Sementara, Ketua Panitia Haflatul Ikhtitam Pondok Pesantren Nurul Mursyidah Ma’mun menjelaskan, pesantrennya memiliki tujuan melahirkan generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, mandiri, cinta tanah air, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Karena, nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting bagi pembangunan daerah maupun pembangunan nasional,” kata Ma’mun.
Ia menilai, pembangunan sumber daya manusia merupakan investasi terbesar bagi masa depan daerah. Oleh sebab itu, pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan jalan, jembatan, maupun infrastruktur fisik semata, tetapi juga pembangunan kualitas manusia yang beriman.
“Termasuk berilmu, berkarakter, produktif, dan berintegritas,” ujarnya.
Wali Santri Pondok Pesantren Nurul Mursyidah Taufik menyampaikan apresiasi kepada para guru di Pondok Pesantren Nurul Mursyidah yang dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang mendidik dan membimbing para santri. Menurutnya, mendidik santri bukanlah pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, pengorbanan tenaga, bahkan doa yang tidak henti-hentinya.
“Apa yang hari ini kami saksikan, mulai dari bacaan Al-Quran, penampilan adab, hingga ilmu yang telah mereka peroleh, tentu bukan hasil dalam waktu singkat. Semua itu adalah buah dari ketulusan para guru yang setiap hari bersama anak-anak santri membimbing dengan sepenuh hati,” katanya.(lsi)
Sumber : Adpim

