Kisah Inspiratif Diah Warih: Bangkit dari Lumpuh, Kini Bantu Difabel Miliki Rumah Layak

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Tiga belas tahun lalu, kecelakaan maut nyaris mengubah hidup Diah Warih Anjari menjadi penyandang disabilitas dengan keterbatasan permanen yang berat.
‎
Pengalaman pahit itu justru menjadi titik balik lahirnya kepedulian besar terhadap sesama melalui pendirian Diwa Foundation lima tahun lalu bersama relawan.
‎
“Saya mengalami kecelakaan maut 13 tahun lalu. Badan saya patah sembilan,” ujar Diah Warih Anjari saat ditemui Minggu (5/7) penuh haru.
‎
“Saya sempat tidak bisa jalan maupun menggerakkan tangan. Saat itu saya berpikir, kalau tidak bisa berjalan, saya difabel,” kenangnya lirih.
‎
Pengalaman menjalani masa pemulihan membuat Diah memahami perjuangan penyandang disabilitas menghadapi keterbatasan fisik, mental, ekonomi, hingga lingkungan setiap harinya bersama keluarga.
‎
“Karena saya sempat mengalami sakit dalam keterbatasan, saya merasakan bagaimana teman-teman difabel menjalani hidup,” ungkapnya dengan penuh empati mendalam kepada semua.
‎
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi fondasi berdirinya Diwa Foundation sebagai wadah sosial kemanusiaan yang menghadirkan aksi nyata membantu kelompok rentan secara berkelanjutan bersama.
‎
Program bedah rumah perdana sengaja dimulai dari Kota Yogyakarta sebagai langkah awal memperluas gerakan kemanusiaan menuju berbagai daerah Indonesia secara bertahap.
‎
“Kami hadir di Jogja karena kita mulai dari titik nol. Nanti Jogja kita estafet menuju kota-kota lain,” kata Diah optimistis.
‎
Program awal menyasar rumah Mursiti penyandang disabilitas mental serta Rohmawati yang memiliki putra penyandang tuna daksa bernama Zaki di Yogyakarta.
‎
Diwa Foundation mengalokasikan bantuan renovasi lebih dari Rp20 juta untuk masing-masing rumah melalui dukungan CSR dan gotong royong bersama warga setempat.
‎
“Untuk disabilitas menjadi prioritas karena mereka memerlukan ruang khusus serta hunian yang layak, nyaman, aman, dan sehat,” tegas Diah menjelaskan alasannya.
‎
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi kolaborasi tersebut sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap penyandang disabilitas fisik maupun mental di wilayahnya bersama.
‎
“Difabilitas itu tidak hanya masalah fisik, tetapi bisa juga secara jiwa,” ujar Hasto menegaskan pentingnya perhatian kepada seluruh penyandang disabilitas.
‎
Menurut Hasto, rumah Mursiti diprioritaskan karena kondisinya rusak berat sehingga membahayakan keselamatan penghuni yang mengalami disabilitas mental setiap waktu terus.
‎
“Rumahnya sudah jebol. Kalau roboh tentu membahayakan penghuninya,” kata Hasto seraya berharap semakin banyak pihak tergerak membantu keluarga rentan lainnya bersama.
‎
“Harapan kami, kebaikan ini menjadi kebaikan bersama. Kami ingin mengajak lebih banyak pihak ikut peduli,” pungkas Diah penuh semangat dan harapan.(waw)